Frensia.Id- Garis nasib belum berpihak pada Kuswantoro (50). Di tengah geliat pusat Kota Jember, pria yang akrab disapa Pak Iwan ini harus menelan pil pahit kehidupan.
Dia bersama istri, dua anak, dan ibu mertuanya kini terjepit di sebuah kontrakan sempit berukuran 5 x 5 meter di Lingkungan Sawahan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates.
Beban yang dipikul Pak Iwan tak main-main. Selain harus memutar otak mencari sesuap nasi, ia harus merawat ibu mertuanya yang sudah tiga tahun lumpuh akibat stroke. Ujiannya kian bertubi-tubi karena sang istri, Puji Rahayu Maulidiyah (44), juga sedang berjuang pulih pascaoperasi kanker payudara.
“Tunggakan air sekitar Rp 2,5 juta itu jadi beban pikiran saya. Sampai susah tidur karena belum mampu membayarnya. Saya juga masih menunggak kontrakan rumah,” kata Pak Iwan dengan nada lirih saat ditemui, Jum’at (10/7/2026).
Kehidupan Pak Iwan sejatinya relatif stabil sebelum pandemi Covid-19 menghantam pada 2020 lalu. Kala itu, kata dia, dirinya menyambung hidup dari usaha berjualan telur gulung yang laris manis. Tak hanya itu, ia kerap menjadi sopir lepas yang mengantar pasien rujukan Dinas Sosial Jember ke rumah sakit di Surabaya dan Mojokerto.
“Namun, saat pandemi seketika menghentikan roda ekonomi kami. Usaha telur gulung saya gulung tikar, dan orderan menyetir pun sepi total,” ujarnya.
Cobaan hidup tak berhenti di situ. Pada tahun 2022, keluarga ini terpaksa menjual rumah milik mertuanya demi membiayai pengobatan sang ayah mertua yang mengidap penyakit jantung koroner. Sayang, nyawa sang ayah mertua tak tertolong.
“Sejak saat itu, kami sekeluarga terpaksa angkat kaki dan tinggal di rumah kontrakan seadanya,” paparnya.
Puncak ujian kembali datang pada September 2025. Sang istri didiagnosis menderita kanker payudara dan harus menjalani dua kali operasi di RSUD dr. Soebandi Jember.
“Beruntung untuk urusan medis, kami terbantu oleh program Universal Health Coverage (UHC) dari Pemkab Jember. Seluruh biaya rumah sakit hingga transportasi klir ditanggung pemerintah,” tambahnya.
Kendati biaya pengobatan gratis, masalah perut dan tempat tinggal justru kian mencekik. Pak Iwan mengaku sudah menunggak uang sewa kontrakan selama 4 bulan.
“Belum lagi tagihan PDAM yang menumpuk hingga Rp 2,5 juta karena setahun tidak dibayar,” ungkapnya.
Untuk bertahan hidup, Pak Iwan kini melakoni pekerjaan serabutan apa saja. Mulai dari mencuci mobil hingga membantu pekerjaan ringan dengan upah berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.
“Kalau ada rezeki ya makan. Kalau tidak ada, ya menunggu. Sekarang saja gas (elpiji) habis dan belum bisa beli,” terangnya.
Demi mencari jalan keluar, Pak Iwan sempat melayangkan aduan melalui program layanan publik Pemkab Jember, “Wadul Guse”. Ia sangat berharap ada keajaiban bantuan untuk melunasi kontrakan rumahnya agar ia bisa fokus mencari modal usaha.
Pak Iwan mengaku sama sekali belum pernah tersentuh bantuan sosial (bansos) reguler dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Usut punya usut, berdasarkan data DTKS, keluarganya masih masuk dalam kategori desil 5, sehingga secara sistem dinilai belum berhak menerima bansos tersebut.
“Saya hanya ingin bisa membayar kontrakan rumah setidaknya untuk satu tahun. Kalau tempat tinggal sudah aman, penghasilan yang saya dapat bisa dipakai membuka usaha lagi. Saya tidak ingin terus bergantung pada bantuan,” tandasnya.






