Frensia.Id- Kisah pilu Kuswantoro (50), warga Lingkungan Sawahan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Jember yang luput dari bantuan sosial (bansos) memantik respons cepat pemerintah daerah. Dinas Sosial (Dinsos) PPPA Kabupaten Jember langsung turun tangan melacak akar masalahnya.
Kepala Dinsos PPPA Jember, Akhmad Helmi Luqman mengungkapkan, penyebab keluarga miskin tersebut tidak tersentuh bansos Program Keluarga Harapan (PKH). Maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah karena masalah desil data kemiskinan.
“Kami cek, desilnya ternyata desil 5. Sementara penerima bantuan saat ini diprioritaskan untuk masyarakat yang berada di desil 1 sampai desil 4,” kata Helmi saat diwawancarai, Sabtu (11/7/2026).
Meskipun terganjal urusan administrasi, Helmi memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Relawan sudah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan asesmen cepat agar data keluarga Kuswantoro bisa segera diusulkan ke pusat melalui mekanisme musyawarah kelurahan (muskel).
Sembari menunggu proses birokrasi di Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) berjalan, Dinsos Jember akan segera mengirimkan bantuan darurat.
“Insyaallah, kami intervensi terlebih dahulu untuk sembako dan kebutuhan sehari-harinya. Kami tidak akan tinggal diam,” ujarnya.
Di tengah kasus ini, Helmi menyampaikan fakta karut-marut data kemiskinan di Jember. Saat melakukan verifikasi dan validasi (verval), pihaknya justru menemukan belasan ribu data penerima bansos fiktif karena sudah meninggal dunia.
“Hasil verval kami menemukan sekitar 16 ribu penerima yang sudah meninggal dunia tapi masih tercatat aktif menerima bantuan,” paparnya.
Helmi menegaskan, puluhan ribu data “hantu” tersebut akan segera dihapus dari sistem. Harapannya, kuota bansos yang kosong dari APBN tersebut bisa dialihkan secara tepat sasaran.
“Terutama kepada warga yang benar-benar membutuhkan seperti Kuswantoro,” tandasnya.
Untuk diketahui, Kuswantoro hidup memprihatinkan di rumah kontrakan sempit 5×5 meter. Mantan sopir yang kini kerja serabutan itu harus menghidupi istri yang mengidap kanker payudara, dua anak, serta ibu mertuanya yang lumpuh akibat stroke. Penghasilannya dari mencuci mobil kadang hanya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per hari.






