Putus dengan Tunangannya Justru Menjadi Titik Tolak Intelektualitas Bapak Eksistensialis, Soren Kierkegaard

Wednesday, 16 October 2024 - 12:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Soren Kierkergaard (Ilustrasi/Prase)

Soren Kierkergaard (Ilustrasi/Prase)

Frensia.id- Setelah mengambil keputusan untuk meninggalkan tunangannya yang bernama Regina Olsen, ternyata menjadi titik tolak bagi perkembangan intelektual Soren Kierkegaard, yang mana kelak dirinya akan dikenal sebagai bapak eksistensialis.

Soren Kierkegaard adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, ia lahir pada tahun 1813, di Kopenhagen, Denmark

Ayahnya Mikhael Kierkegaard adalah seorang yang overthinking. Merasa dirinya berdosa karena anak sulungnya lahir lima bulan setelah pernikahannya. Watak melankolis ini, diwariskan kepada Kierkegaard dan ia sendiri begitu dekat dan erat dengan sang ayah.

Hingga permintaan ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Teologi, Universitas Kopenhagen ia turuti, pada tahun 1830. Dengan motif sekedar untuk menyenangkannya.

Sekalipun pada dasarnya Kierkegaard kurang meminati disiplin ilmu ini, ia cenderung lebih banyak meluangkan waktunya untuk menikmati bacaan-bacaan filsafat, sejarah dan kesusastraan. Untungnya, meskipun kurang minat, studi teologinya berhasil ia rampungkan dengan jangka waktu cukup lama, yaitu 8 tahun.

Pada rentang tahun tersebut, yakni antara 1830-1838, terdapat banyak gejolak dan prahara yang menyelimuti hati dan pikirannya. Termasuk peristiwa bahwa ia akan mengakhiri hidupnya.

Kepercayaan pada patoka-patokan moral sirna dan juga pada tahun-tahun ini, ia berkenalan dengan seorang wanita, yang bernama Regina Olsen. Pertemuan dengan sosok wanita inilah yang membuat Kierkegaard, sebagaimana menurut para pengamat, mendapatkan tilikan-tilikan filosofisnya.

Baca Juga :  3 Peserta Difabel Dapat Layanan Khusus saat Ikut UTBK 2026 di UNEJ

Pertama kali Kierkegaard menyukai gadis ini, ketika si gadis masih belia. Berumur sekitar 14 tahun. Waktu itu ia sendiri sudah berumur sekitar 23 tahun. Baru kemudian ia lamar pada usianya yang ke 27. Sedangkan Regina berusia 18 tahun. Menurut banyak orang mereka berdua adalah pasangan yanng ideal.

Tidak lama setelah pertunangan itu, sekitar rentang waktu sebelas bulan. Muncul sebuah kesadaran baru dalam pikiran Kierkegaard. Bahwa ia adalah tipikal orang yang tidak cocok menjalani hubungan rumah tangga dan akhirnya memutuskan pertunangan itu untuk kandas ditengah jalan.

Sampai disini terlihat sosok Kierkegaard yang filosofis. Bukan sebab tidak mau menjalin hubungan dengan pasangan. Melainkan sebuah rasa untuk terus beranjak dan tidak mudah menerima kepastian dari setiap keputusan yang telah diambil.

Dipandang dari satu sudut, kelihatan sikap tersebut dimiliki oleh orang yang selalu bosan dan kurang telaten untuk menekuni sebuah pekerjaan, termasuk menekuni jalinan asmara.

Fenomena yang dialami oleh Kierkegaard ini tidak bisa diartikan secara sempit. Bahwa seorang yang telah masuk dalam dunia filsafat, ia tidak akan membuat keputusan untuk menghabiskan hidupnya dengan orang lain.

Sedangkan pengalaman filosofis Kierkegaard secara personal, setelah bergumul sekian tahun dengan teks-teks filsafat dan pengalaman hidupnnya yang pahit.

Mengantarkannya untuk menjemput jawaban, bahwa ia harus berpisah dengan seorang gadis yang paras cantiknya mulai tampak berbinar. Seorang gadis yang pernah ia sebut sebagai “ratu hatiku”.

Baca Juga :  Kisah Khamida, Alumnus FTIK UIN KHAS Jember Penggagas 'Sahabat Murojaah'

Akhirnya Regina menikah dengan Friedrich Schlegel pada tahun 1847. Kira-kira 7 tahun setelah pisahan dengan si melankolis.

Ia kembali bisa bertemu dengan Regina “ratu hatiku” setelah menjadi istri orang, ketika tidak sengaja berpapasan dijalan. Di kesempatan yang lain, ia pernah minta izin sang suami untuk bertemu dengan Regina, sayang tidak boleh.

Hingga akhirnya Schlegel membawa Regina untuk bermigrasi karena jabatan yang menuntutnya, sebagai seorang Gubernur.

Regina berusia panjang, sampai 1904. Ketika meninggal ia dikuburkan disamping makam Kierkegaard.  

Babak baru Kierkegaard dimulai setelah perpisahannya dengan Regina. Ia mengambil posisi sebagai seorang yang bernyali kuat untuk menggempur habis-habisan Hegelianisme.

Tindakan itu dilakukan, karena ia merasa bahwa Hegel telah membikin cara berpikir ‘kawanan’.

Sedangkan menurutnya, seseorang harus tetap berpegang teguh pada individualitasnya tanpa ikut arus massa. Inilah nantinya yang akan menjadi ciri khas satu aliran, dimana ia menjadi bapaknya, yaitu eksistensialisme.

Pengaruh dari Kierkegaard mencakup dalam bidang sastra, seni, psikologi dan filsafat. Beberapa filosof juga berhutang pikiran padanya. Diantaranya adalah mereka yang tergolong dalam isme eksistensial, seperti J-P Satre, Gabriel Marcel, Beryaev, Martin Heidegger.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Tim Sekretariat UIN KHAS Jember Tingkatkan Kompetensi melalui Penguatan Profesionalitas
Dekan FEBI UIN KHAS Jember Beri Tahu Risiko Ekonomi Indonesia saat Rupiah dan IHSG Anjlok
UIN KHAS Jember Siapkan Keamanan Berlapis saat Pelaksanaan UM-PTKIN
UMPTKIN 2026 Resmi Dimulai, UIN KHAS Jember akan Terima 1.761 Camaba
Buku Kedua Puthut EA Tentang Mentalitet Korea Komandan Bambang Pacul
UIN KHAS Jember Gelar Rakor Jelang Pelaksanaan UM-PTKIN 2026
Cerita Izul, Mahasiswa FTIK UIN KHAS Jember Sosok Tokoh Utama Pemenang Kompetisi Video pada PMB PTKIN 2026
Rektor UIN KHAS Jember Ajak Bumikan Nilai Pancasila Lewat Lima Pilar Kemajuan Kampus

Baca Lainnya

Friday, 12 June 2026 - 22:30 WIB

Tim Sekretariat UIN KHAS Jember Tingkatkan Kompetensi melalui Penguatan Profesionalitas

Tuesday, 9 June 2026 - 23:37 WIB

Dekan FEBI UIN KHAS Jember Beri Tahu Risiko Ekonomi Indonesia saat Rupiah dan IHSG Anjlok

Monday, 8 June 2026 - 18:06 WIB

UIN KHAS Jember Siapkan Keamanan Berlapis saat Pelaksanaan UM-PTKIN

Monday, 8 June 2026 - 16:10 WIB

UMPTKIN 2026 Resmi Dimulai, UIN KHAS Jember akan Terima 1.761 Camaba

Sunday, 7 June 2026 - 12:58 WIB

Buku Kedua Puthut EA Tentang Mentalitet Korea Komandan Bambang Pacul

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading