Ragam Tradisi Muharram di Berbagai Negara

Thursday, 26 June 2025 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Setiap bangsa memiliki cara sendiri dalam memaknai waktu. Dan dalam Islam, salah satu waktu yang tidak hanya sakral tetapi juga kaya makna adalah 1 Muharram, awal tahun dalam kalender Hijriah.

Sayangnya, di banyak tempat, kehadirannya sering terlewat begitu saja, tertutup oleh perayaan besar lain. Padahal jika direnungkan, 1 Muharram adalah panggilan halus untuk berpindah—bukan hanya dari tahun ke tahun, tapi dari gelap ke terang, dari lalai ke sadar, dari rutinitas ke refleksi.

Studi Celebrating 1 Muharram: History, Tradition, And Meaning In The Islamic Context (2024), Muhammad Farchani, dkk., menelusuri bagaimana umat Islam di berbagai negara merayakan 1 Muharram. Ternyata, seperti sungai yang mengalir dari satu mata air tetapi bercabang ke banyak arah, peringatan 1 Muharram memiliki wajah yang berbeda-beda, namun tetap bersumber dari makna spiritual yang sama.

Di Indonesia –terutama di Jawa– 1 Muharram atau “Suro” bukan sekadar pergantian tahun. Ia dianggap sebagai bulan keramat. Warga menjalani puasa, zikir, pengajian, bahkan ritual budaya seperti “tirakat” dan ziarah ke makam para wali. Di beberapa daerah, “Malam Suro” diwarnai dengan doa bersama atau upacara adat yang bertujuan menangkal bala. Sebuah ekspresi lokal dari kecintaan terhadap waktu-waktu sakral.

Baca Juga :  Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan

Sementara itu, di Iran dan komunitas Syiah lainnya, 1 Muharram membuka pintu menuju Asyura, hari kesepuluh yang mengingatkan kita pada tragedi Karbala. Di sana, Muharram menjadi ruang duka, bukan untuk meratap semata, tetapi sebagai ajakan merefleksikan keberanian, keadilan, dan pengorbanan Imam Husain. Peringatan ini dilakukan dengan puisi, kisah duka, hingga drama spiritual yang menyentuh hati.

Lalu bagaimana dengan dunia Arab? Di Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, Muharram sering menjadi momen perenungan pribadi. Berpuasa pada hari Asyura menjadi amalan utama, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kezaliman Fir’aun.

Ketiga bentuk perayaan itu—Jawa, Iran, dan Timur Tengah—berbeda dalam bentuk, tetapi satu dalam ruh: semua ingin mendekat kepada Allah, semua ingin menjadikan waktu suci sebagai cermin untuk melihat ke dalam. Inilah keindahan Islam: satu iman, banyak ekspresi.

Namun pertanyaannya, bagaimana sebaiknya kita menyikapi perbedaan tradisi ini?

Baca Juga :  Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir

Sebagai umat yang semakin terhubung secara global, kita tidak bisa lagi memaksakan satu bentuk ekspresi keislaman sebagai satu-satunya kebenaran. Justru keberagaman inilah yang memperkaya. Sama seperti bumi yang subur karena beragam tanaman, Islam menjadi indah karena warna-warni budayanya yang tetap bersandar pada tauhid.

Dalam kontesk ini, yang terpenting bukan bentuk luarnya, tapi isi spiritualitasnya. Mau itu puasa, ziarah, berkabung, atau berdoa dalam sunyi, jika diniatkan untuk memperbaiki diri, maka semuanya sahih dalam semangat Hijrah: berpindah dari kekurangan menuju perbaikan.

Tradisi memang lahir dari budaya, tapi tidak berarti ia lepas dari nilai. Tradisi bisa menjadi pintu menuju ketakwaan, selama tidak kehilangan arah. Sebaliknya, tanpa makna, ritual hanya jadi rutinitas. Maka, tugas kita adalah menghidupkan makna itu kembali. 1 Muharram bukan sekadar momentum tahunan.

Ia adalah ajakan tahunan untuk menata niat, memperbaiki hidup, dan mengenang perjalanan umat menuju cahaya. Dan bila itu dilakukan dengan hati yang jernih, dalam bentuk apa pun tradisinya, maka 1 Muharram akan tetap menjadi detak spiritual yang menguatkan kita semua.*

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Peran MUI di Pembukaan Musda ke-XI
Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib
Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal
Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir
Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat
Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan
Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir

Baca Lainnya

Saturday, 4 April 2026 - 15:05 WIB

Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Peran MUI di Pembukaan Musda ke-XI

Saturday, 21 March 2026 - 14:54 WIB

Perempuan Cantik Tidak Disunnahkan Mengikuti Sholat Idul Fitri, Begini Penjelasan dalam Kitab Fathul Qorib

Thursday, 19 March 2026 - 07:58 WIB

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Sunday, 8 March 2026 - 14:28 WIB

Berkah Tidak Mesti Identik dengan Kekayaan, Begini Penjelasan Dr. Haidar Baqir

Thursday, 26 February 2026 - 23:19 WIB

Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat

TERBARU

Tangkapan layar dari akun media sosial X Formely Twitter, @ God Be With Us.

Criminalia

Viral di X, Mahasiswa Hukum UNEJ Diduga Lecehkan Perempuan

Friday, 17 Apr 2026 - 19:15 WIB