Frensia.id –Resepsi 100 Tahun Nahdlatul Ulama (NU) dalam hitungan Masehi digelar dengan meriah di alun-alun Jember, Jawa Timur, pada pada 31 Januari–1 Februari 2026. Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PBNU, DR. KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), paparkan bahwa NU menjadi jam’iyah mubarokah karena khidmatnya yang konsisten kepada umat. Khidmat tersebut, menurutnya, terbingkai dalam kerangka khidmat besar, yakni himayatud din, himayatud daulah, danhimayatul ummah bihimayatid din wa himayatud daulah.
“NU menjadi jam’iyah mubarokah karena khidmat kepada umat. Paling tidak khidmat ini diklasifikasikan menjadi tiga kerangka khidmat besar yakni himayatud din, himayatud daulah, dan himayatul ummah bihimayatid din wa himayatud daulah,” ujar Gus Aab
Ia menjelaskan, tugas pertama Nahdlatul Ulama adalah menjaga agama (himayatud din), khususnya dalam menjaga akidah umat agar tetap lurus dan murni sesuai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
“Pertama tugas Nahdlatul Ulama adalah menjaga agama, maksudnya adalah menjaga aqidahnya umat, memastikan bahwa warga Nahdlatul Ulama khususnya dan umat Islam pada umumnya tetap terjaga dan terjamin kemurnian pelaksanaan ajaran-ajarannya di bawah bimbingan ulama ahli Sunnah wal Jamaah,” tegasnya.
Menurut Gus Aab, NU didirikan tidak terlepas dari adanya ancaman terhadap pelaksanaan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara, baik dari kelompok keagamaan yang bersifat radikal maupun liberal.
“Karena demi tujuan mulia ini NU didirikan, ketika ada ancaman terhadap pelaksanaan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Nusantara dari berbagai macam infiltrasi kelompok-kelompok keagamaan dengan paham yang berbeda, baik kelompok radikal maupun liberal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa salah satu prinsip utama Ahlussunnah wal Jamaah adalah at-tawassuth, yakni sikap pertengahan yang sejalan dengan prinsip wasathiyah, tidak condong pada ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.
“Di sinilah peran NU dalam menjaga agama melalui beberapa lembaga yang dibentuk di NU mulai LBM NU atau secara ad hoc seperti Aswaja NU center,” lanjutnya.
Gus Aab menambahkan, peran lembaga-lembaga tersebut adalah menerjemahkan teks-teks keagamaan yang bersifat universal agar dapat diterima dan dijalankan secara kontekstual di tengah masyarakat Nusantara.
Tugas kedua NU, menurutnya, adalah himayatud daulah, yakni menjaga kedaulatan negara dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai ancaman yang dapat merusak persatuan dan prinsip kebangsaan.
“Menjaga negara dan keutuhan NKRI sama maqamnya dengan menjaga agama. Ketika negara tidak kondusif dan keamanan terganggu, maka pelaksanaan ajaran agama juga pasti akan terganggu,” tegasnya.
Adapun tugas ketiga NU adalah menjaga umat (himayatul ummah)melalui terjaganya agama dan negara. NU berkewajiban melindungi umat agar dapat menjalankan ajaran agama dengan baik di bawah bimbingan ulama Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus memastikan hak-hak sipil mereka sebagai warga negara tetap terjamin.
“Melindungi umat, baik dari sisi bagaimana umat melaksanakan ajaran-ajaran agama yang baik di bawah bimbingan para ulama Jam’iyyah NU, para ulama ahlussunnah wal jamaah dan terjamin hak-hak sipilnya sebagai warga negara, sehingga tidak ada kezaliman dari pihak lain yang akan mengganggu hak mereka.” pungkas Gus Aab*







