Frensia.Id- Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan(Bunga Desaku), bukan sekadar agenda seremonial belaka.
Dirinya menyebut program ini menjadi instrumen penting untuk menyerap aspirasi sekaligus memacu pemerataan ekonomi di wilayah pelosok.
Bupati Fawait menjelaskan, esensi utama dari Bunga Desa adalah memangkas jarak antara pemerintah dan rakyat.
Dengan turun langsung ke lapangan, dia ingin memastikan suara masyarakat terdengar tanpa sekat.
“Tujuan Bunga Desa adalah seperti ini. Kita bisa lebih dekat dengan masyarakat,” katanya, saat menggelar program Bunga Desaku di Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Senin (6/4/2026).
Selanjutnya kata dia, program ini juga membangun kedekatan emosional dan komunikasi langsung dengan warga. Serta menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan secara face-to-face.
“Kita bisa langsung berhadap-hadapan untuk menyerap aspirasi masyarakat. Masyarakat juga bisa menyampaikan keluhannya kepada kami,” ujarnya.
Tak hanya soal serap aspirasi, politikus yang akrab disapa Gus Fawait ini menyoroti aspek perputaran ekonomi. Menurutnya, belanja pemerintah (government expenditure) atau APBD harus dirasakan secara merata hingga ke tingkat desa, bukan menumpuk di pusat kota saja.
“Tujuannya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi, itu perlu government expenditure (APBD). Nah, APBD kita jangan cuman ada di satu titik saja,” paparnya.
Gus Fawait meyakini, dengan membawa agenda kegiatan kabupaten ke desa-desa, stimulus ekonomi akan tercipta di tingkat bawah. Hal inilah yang menjadi filosofi utama dari program Bunga Desa.
“Kami memancing pertumbuhan ekonomi di pelosok agar tidak terjadi ketimpangan dengan wilayah perkotaan,” tambahnya.
“Maka di situlah filosofi adanya Bunga Desa. Tujuan kita adalah pemerataan pertumbuhan ekonomi, bagaimana agar APBD itu bisa memancing pertumbuhan ekonomi di kabupaten, di kecamatan, dan di pelosok-pelosok,” tandasnya.






