Perajin Tahu di Mangli Jember Keluhkan Efek Domino Naiknya Harga Kedelai

Friday, 17 April 2026 - 22:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Samsul Arifin, perajin tahu dari Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember (Foto: Fadli/Frensia).

Samsul Arifin, perajin tahu dari Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember (Foto: Fadli/Frensia).

Frensia.id – Harga bahan baku tahu telah mengalami kenaikan yang signifikan.

Naiknya harga tersebut, mengakibatkan efek domino pada sejumlah barang yang digunakan saat proses produksi.

Samsul Arifin, salah satu perajin tahu dari Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember, mengeluh bahwa sejak harga kedelai naik, dirinya mensiasati produksi dengan mengecilkan ukuran tahu.

Samsul merasakan kenaikan harga kedelai saat awal Bulan Ramadan. Harga kedelai yang per kilogramnya semula Rp 9. 600 ribu, naik menjadi Rp 11. 500 ribu.

Sementara, dia memproduksi tahu per satu harinya sebanyak 50 hingga 60 kilogram kedelai.

Selain kedelai, dia juga mengeluhkan naiknya harga minyak yang digunakan menggoreng tahu.

Baca Juga :  Tren Tabungan Emas di BRImo Semakin Diminati saat Rupiah Melemah

“Kayak (minyak) Bimoli itu kan mahal. Kalau dulunya cuma Rp 18 ribu. Sekarang Rp 22 ribu (per) 1 kilonya. Jadi naiknya Rp 4 ribu,” kata dia, saat ditemui di rumahnya, pada Jum’at, (17/4/2026).

Kata Samsul, meskipun ukuran tahu diperkecil, daya beli konsumen tidak berkurang.

Dampak kenaikan kedelai, ternyata telah merembet pada harga plastik untuk membungkus tahu.

“Plastik biasanya Rp 4 ribu, sekarang Rp 8 ribu satu pack. Isinya 50. Sekarang paling 40-an isinya itu,” kata dia.

Tak hanya itu, naiknya harga kedelai telah menyentuh harga kayu bakar. “Biasanya Rp15 ribu satu (karung) sak, sekarang Rp 17.500 ribu. Naiknya Rp 2. 500,” kata Samsul.

Baca Juga :  Buntut 18 Siswa TK-PAUD Keracunan, Operasional SPPG Jember Dihentikan

Kata dia, berbeda lagi jika menggunakan gas elpiji. Dia harus membayar ongkos isi ulang 4 tabung gas melon.

Sedangkan, untuk kayu bakar hanya butuh 2 karung sak plastik per tiap produksi.

Samsul dalam setiap produksi tahu, dirinya lebih memilih menggunakan kayu bakar dibanding gas elpiji.

Sebab, ketersedian gas elpiji kini telah mengalami kelangkaan, sehingga menyulitkan dia ketika produksi berlangsung.

Lebih lanjut, dampak kenaikan harga kedelai, menjadikan dia harus terpaksa mengurangi jumlah karyawannya.

“Untuk sementara yang kerja saya kurangi satu. Biasanya tiga. Jadi, biar tetap berjalan,” tuturnya.

Adapun tahu yang dia produksi, kebanyakan dibeli oleh pedagang bakso, gorengan, dan jajanan tahu kocek.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Dewan Komisioner OJK: Industri Keuangan adalah Industri Kepercayaan
Gawat! Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Tembus 18.000 Lebih
BRI Jember Salurkan KUR Rp 363,6 Miliar, Sektor Pertanian Mendominasi
Tren Tabungan Emas di BRImo Semakin Diminati saat Rupiah Melemah
Rupiah Kian Melemah, Ekonom UNEJ Sebut Harga Pangan dan Energi Domestik Berpotensi Naik
Pakar Ekonomi UNEJ Soroti Penyebab Lemahnya Rupiah
Harga Minyakita Naik, Pedagang di Jember Stop Penjualan
Gas Elpiji 3 Kg di Jember Langka-Mahal, Pertamina Gelar Operasi Pasar

Baca Lainnya

Saturday, 27 June 2026 - 16:44 WIB

Dewan Komisioner OJK: Industri Keuangan adalah Industri Kepercayaan

Thursday, 4 June 2026 - 10:36 WIB

Gawat! Rupiah Terus Melemah, Dolar AS Tembus 18.000 Lebih

Monday, 25 May 2026 - 14:00 WIB

BRI Jember Salurkan KUR Rp 363,6 Miliar, Sektor Pertanian Mendominasi

Friday, 22 May 2026 - 19:32 WIB

Tren Tabungan Emas di BRImo Semakin Diminati saat Rupiah Melemah

Friday, 22 May 2026 - 18:34 WIB

Rupiah Kian Melemah, Ekonom UNEJ Sebut Harga Pangan dan Energi Domestik Berpotensi Naik

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading