FRENSIA.ID– Sebuah fakta mengejutkan sekaligus unik terungkap terkait preferensi politik mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu. Bukan karena terpesona oleh visi-misi atau rekam jejak, sebagian mahasiswa ternyata memilih pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto, dengan alasan yang sangat di luar nalar. Fakta ini dibongkar langsung oleh Pakar Hukum Tata Negara UGM, Prof. Zainal Arifin Mochtar, atau yang akrab disapa Prof. Uceng.
Dalam sebuah cuplikan video diskusi bersama penulis Puthut EA yang kini viral di platform X (sebelumnya Twitter), Prof. Uceng menceritakan temuan menarik dari ruang kelasnya. Video tersebut salah satunya diunggah oleh akun @YudhaShanny2, 05/05. Kejadian ini bermula saat Prof. Uceng sedang mengajar kelas pemilu di UGM dan berinisiatif melakukan jajak pendapat sederhana untuk melihat arah dukungan para mahasiswanya.
“Saya ngajar terakhir di kelas pemilu di UGM. Nih ya, saya coba survei kecil-kecilan di kelas. Saya bilang, kalian pilih 01, 02, 03. Kalau mau ditambahin dengan alasan, silakan,” tutur Prof. Uceng dalam video tersebut.
Dari survei tersebut, muncullah sebuah temuan yang menarik perhatian sang profesor. Beberapa mahasiswa secara terang-terangan memberikan suaranya untuk paslon 02.
Namun, bukan dukungan yang menggebu-gebu, catatan alasan yang mereka berikan justru bernada apatis dan sarkas. Prof. Uceng mengungkapkan bahwa beberapa mahasiswa itu memilih 02, tapi alasannya ditulis di bawah dengan kalimat yang mengejutkan, yakni “Biar Indonesia hancur sekalian”.
Alasan nyeleneh dan di luar dugaan dari para mahasiswanya ini kemudian digunakan oleh Prof. Uceng sebagai analogi menohok. Ia menggunakan fakta lapangan tersebut untuk membantah klaim-klaim sepihak terkait motif di balik perolehan suara Prabowo yang menembus angka 58%.
Secara khusus, Prof. Uceng menyentil pernyataan tokoh lembaga survei, M. Qodari, yang kerap menarasikan bahwa kemenangan telak 58% tersebut adalah bentuk kecintaan murni masyarakat terhadap sosok Prabowo Subianto.
Bagi Prof. Uceng, pernyataan semacam itu hanyalah sebatas opini belaka jika tidak dibarengi dengan riset yang komprehensif. Menurutnya, klaim tersebut sangat mudah dipatahkan dengan fakta lapangan di kelasnya.
“Jadi saya mau menggambarkan. Kalau dengan mudah Qodari mengatakan 58% itu adalah bentuk kecintaan pada Prabowo, saya kira enggak. Enggak bisa. Itu opini aktual, kecuali kalau dia riset,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa angka 58% tersebut lahir dari dinamika yang sangat kompleks. Motif pemilih sangat beragam, termasuk cara berpikir unik para mahasiswanya yang memilih 02 justru karena bersikap skeptis terhadap masa depan negara.
Pada faktanya, ada cara berpikir lain yang nilainya sama karena sama-sama opini, sehingga tidak bisa diklaim sepihak. Menurut Prof. Uceng, apapun yang disampaikan Qodari tersebut pada akhirnya murni hanyalah sebuah klaim, bukan fakta absolut.






