Cerita Suparno saat Budidaya Kopi di Perkebunan Jember hingga Belasan Tahun: Perusahaan Berharap Biaya Dikit, Penghasilannya Lumayan

Monday, 3 August 2026 - 19:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suparno, Kepala Bagian Hortikultura di Perkebunan Sentool (Sentul), Kecamatan Panti, Kabupaten Jember (Foto: Fadli/Frensia).

Suparno, Kepala Bagian Hortikultura di Perkebunan Sentool (Sentul), Kecamatan Panti, Kabupaten Jember (Foto: Fadli/Frensia).

Frensia.id – Jalanan sore saat itu sedikit ramai, karena banyak buruh pabrik mulai pulang ke rumah.

Asap motor mumbumbung tinggi ke langit, dengan bunyi knalpot saling bergantian, saat berhenti di lampu merah.

Namun, suasana terasa berbeda dengan Suparno, seorang Kepala Bagian Hortikultura di Perkebunan Sentool (Sentul), Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, yang baru saja menjamu tamunya menanyakan proses budidaya tanaman kopi.

Suparno sudah 15 tahun, dalam menjalani dunia budidaya kopi tersebut, di perkebunan milik Koperasi Bhirawa Anoraga Kodam V/Brawijaya, yang dikelola oleh PT Gorga Bumi Mandiri.

Selama bertugas di bagian Budidaya Kopi, Suparno mengalami banyak tantangan dan butuh waktu yang tidak sebentar hingga tiba masa panen.

Misalnya saja dari bibit yang masih di bedengan, hingga dipindah ke proses tanam, itu kurang lebih memakan waktu hampir 1 tahun setengah.

“Dimulai dari bedengan (pohon kopi) dulu itu prosesnya sampai penyambungan (batang). Setelah disambung, baru butuh 6 bulan lagi,” kata dia, saat ditemui, pada Senin (3/8/2026).

Dibutuhkannya waktu 6 bulan pasca proses penyambungan batang kopi Robusta, agar ketinggian sambungannya kurang dari 20 cm (sentimeter).

“Dari sambung sudah tunas, baru kita pindahkan ke lapangan,” tuturnya.

Sebelum batang pohon kopi Robusta dipindahkan ke lapangan, tanah harus sudah dikondisikan bersih.

Setelah itu, tanah yang akan ditanami diberi tanda atau anjir, dengan jarak 2 meter setengah antara satu lubang tanam ke lubang lain.

Adapun untuk lubang yang akan menjadi media tanam berukuran diameter 30 atau 40 cm.

“Setelah itu dibiarkan 3 bulan, baru nanti kita tanam,” ujarnya.

Dia menjelaskan apabila penanaman bibit pohon kopi di musim hujan yaitu bulan November, Desember dan Januari, maka semua lubang untuk penanaman harus selesai digarap, sebelum 3 bulan tersebut.

Baca Juga :  Ketua Panitia Muscab IKA PMII Jember: Muscab Jadi Pondasi Awal Gerakan Alumni

Dipilihnya musim hujan untuk penanaman, agar kopi tidak kekurangan air saat proses pertumbuhan.

“Kalau nanam tidak ada musim hujan, bisa mati. Kalau di bulan-bulan itu kan hujan paling lambat 2 hari sekali, 3 hari sekali,” katanya.

Suparno membutuhkan 6.500 batang pohon kopi Robusta yang disiapkan untuk ditanam di Perkebunan Sentul seluas 5 hektare.

“Jenis kopi Robusta itu banyak, ada klon-klonnya (jenisnya). Ada BP (Balai Penelitian) 42, BP 359, ada macam-macam pokoknya,” tuturnya.

Selain ditanam, batang pohon kopi juga untuk persediaan penyulaman.

Namun, jumlah tersebut, dibutuhkan saat dulu ketika masih musim tanam di tahun 2000 ke bawah.

Perkebunan di Sentul kini sudah tidak lagi menjalankan proses tanam dari awal, melainkan hanya menyulam pohon kopi yang sudah mati.

“Kalau sekarang dalam era tahun 2000 ke belakang ini kita sudah tidak kerajinan kopi. Sifatnya hanya nyulam,” tuturnya.

Kurang lebih ketika sudah usia 2 tahun, setelah proses tanam, pohon kopi akan mulai berbuah.

Selama mulai proses penanaman kopi, ada perawatan yang harus dikerjakan oleh petugas perkebunan, meliputi pembabatan (jombret) dengan kurun waktu setahun tiga kali.

“Kalau jombret itu dilakukan berarti 4 bulan sekali. Dibabat gulmanya. Karena tanaman kopi itu seharusnya bersih terus, tidak boleh ada rumput tinggi,” kata dia.

Untuk perawatan selanjutnya, yaitu wiwil yang meliputi kasar, halus, dan pasca panen.

“Tiap batang kan ada tunas. Tunas dari bawah itu dibuang. Tapi disisakan apabila tanaman pokoknya itu tidak bagus disisakan saja. Satu (batang tunas) dipelihara,” ucapnya.

Baca Juga :  BPBD Jember Salurkan 607 Ribu Liter Air Bersih Atasi Kekeringan di 7 Kecamatan

Dari masa pertumbuhan hingga panen, yang menjadi tantangan untuk dihindari pada tanaman kopi adalah hama semut merah.

“Ada hamanya, terutama semut merah. Semut hitam itu mengganggu saat panen petik kopi,” ungkapnya.

Kopi di Perkebunan Sentul dipanen mulai bulan Mei hingga Agustus. Sedangkan untuk di bulan September, hanya memilih sisa kopi dari panen bulan sebelumnya.

“Tinggal pilih bawah itu milih (sisa kopi) yang jatuh-jatuh. Kalau zaman dulu lelesan,” ujarnya.

Meskipun demikian, kata Suparno kini produksi kopi sudah tak lagi relevan di zaman sekarang untuk dijual berbentuk gelondongan, karena banyak yang menjualnya berbentuk ose (Green Bean).

Selain itu, biaya untuk proses bedeng batang pohon kopi cukup mahal.

“Sekarang itu kita mengharapkan perusahaan perkebunan itu biayanya dikit, penghasilannya lumayan,” ucapnya.

Kata Suparno, hanya untuk kebutuhan bedeng pohon kopi, perusahaan perkebunan tidak cukup merogoh saku Rp 5 juta.

Belum lagi, perusahan harus dihadapkan dengan tidak menentunya harga kopi di pasaran.

“Sekarang aja bagus 3 tahun ini. Sekarang Rp 70 ribu (1 kg). Kalau dulu Rp 23.000;. Jadi Rp23.000 itu kopi 1 kilo, tidak cukup bayar buruh kerjanya,” ungkapnya.

Menurutnya, pihak perkebunan kini sudah banyak beralih ke tanaman karet.

“Makanya perusahaan perkebunan tidak berani budidaya kopi skala besar. Sekarang banyak beralih ke karet,” kata dia.

Alasan itu dikarenakan, meskipun perusahan ada penghasilan dari setiap tahun panen, namun biaya untuk membayar pekerja lumayan besar, sedangkan harga kopi juga tidak pasti stabil.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

PPKDN Gelar Kontes Kambing Ratusan Juta Class Regional di Pelataran Dira Jember
Presiden RI ke VI Menulis Novel berjudul “Diana Memang Manja”
Hairul Syapril Sholeh dan Mohammad Erfan Agustian Terpilih Pimpin PC IKAPMII Jember 2026–2031
Ribuan Warga Nahdliyin Kompak Mengikuti Pawai, Ketua MWC NU Umbulsari: Kekuatan Nahdliyin Bisa Ditunjukkan
Kantongi SHM, Warga Nyaris Bentrok dengan 25 Petani Pemegang Akta di Jember
Soroti Isu Nasional hingga Daerah, Aliansi Mahasiswa di Jember Layangkan 18 Tuntutan
Imigrasi Seragamkan 254 Titik Layanan dengan Nama “Beranda Imigrasi”
Pulang Nonton Sound Horeg, Pria di Jember Tewas Tertemper Kereta Api

Baca Lainnya

Saturday, 31 October 2026 - 20:15 WIB

Presiden RI ke VI Menulis Novel berjudul “Diana Memang Manja”

Saturday, 31 October 2026 - 19:40 WIB

Hairul Syapril Sholeh dan Mohammad Erfan Agustian Terpilih Pimpin PC IKAPMII Jember 2026–2031

Saturday, 31 October 2026 - 19:31 WIB

Ribuan Warga Nahdliyin Kompak Mengikuti Pawai, Ketua MWC NU Umbulsari: Kekuatan Nahdliyin Bisa Ditunjukkan

Friday, 30 October 2026 - 19:16 WIB

Kantongi SHM, Warga Nyaris Bentrok dengan 25 Petani Pemegang Akta di Jember

Friday, 30 October 2026 - 18:44 WIB

Soroti Isu Nasional hingga Daerah, Aliansi Mahasiswa di Jember Layangkan 18 Tuntutan

TERBARU

Konser Hey Slank di Banyuwangi Bawakan Lagu Tentang Pengrusakan Hutan (Sumber: Istimewa)

Entertainment

Konser Hey Slank di Banyuwangi Bawakan Lagu Tentang Pengrusakan Hutan

Sunday, 1 Nov 2026 - 22:25 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading