Frensia.id – Jalanan sore saat itu sedikit ramai, karena banyak buruh pabrik mulai pulang ke rumah.
Asap motor mumbumbung tinggi ke langit, dengan bunyi knalpot saling bergantian, saat berhenti di lampu merah.
Namun, suasana terasa berbeda dengan Suparno, seorang Kepala Bagian Hortikultura di Perkebunan Sentool (Sentul), Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, yang baru saja menjamu tamunya menanyakan proses budidaya tanaman kopi.
Suparno sudah 15 tahun, dalam menjalani dunia budidaya kopi tersebut, di perkebunan milik Koperasi Bhirawa Anoraga Kodam V/Brawijaya, yang dikelola oleh PT Gorga Bumi Mandiri.
Selama bertugas di bagian Budidaya Kopi, Suparno mengalami banyak tantangan dan butuh waktu yang tidak sebentar hingga tiba masa panen.
Misalnya saja dari bibit yang masih di bedengan, hingga dipindah ke proses tanam, itu kurang lebih memakan waktu hampir 1 tahun setengah.
“Dimulai dari bedengan (pohon kopi) dulu itu prosesnya sampai penyambungan (batang). Setelah disambung, baru butuh 6 bulan lagi,” kata dia, saat ditemui, pada Senin (3/8/2026).
Dibutuhkannya waktu 6 bulan pasca proses penyambungan batang kopi Robusta, agar ketinggian sambungannya kurang dari 20 cm (sentimeter).
“Dari sambung sudah tunas, baru kita pindahkan ke lapangan,” tuturnya.
Sebelum batang pohon kopi Robusta dipindahkan ke lapangan, tanah harus sudah dikondisikan bersih.
Setelah itu, tanah yang akan ditanami diberi tanda atau anjir, dengan jarak 2 meter setengah antara satu lubang tanam ke lubang lain.
Adapun untuk lubang yang akan menjadi media tanam berukuran diameter 30 atau 40 cm.
“Setelah itu dibiarkan 3 bulan, baru nanti kita tanam,” ujarnya.
Dia menjelaskan apabila penanaman bibit pohon kopi di musim hujan yaitu bulan November, Desember dan Januari, maka semua lubang untuk penanaman harus selesai digarap, sebelum 3 bulan tersebut.
Dipilihnya musim hujan untuk penanaman, agar kopi tidak kekurangan air saat proses pertumbuhan.
“Kalau nanam tidak ada musim hujan, bisa mati. Kalau di bulan-bulan itu kan hujan paling lambat 2 hari sekali, 3 hari sekali,” katanya.
Suparno membutuhkan 6.500 batang pohon kopi Robusta yang disiapkan untuk ditanam di Perkebunan Sentul seluas 5 hektare.
“Jenis kopi Robusta itu banyak, ada klon-klonnya (jenisnya). Ada BP (Balai Penelitian) 42, BP 359, ada macam-macam pokoknya,” tuturnya.
Selain ditanam, batang pohon kopi juga untuk persediaan penyulaman.
Namun, jumlah tersebut, dibutuhkan saat dulu ketika masih musim tanam di tahun 2000 ke bawah.
Perkebunan di Sentul kini sudah tidak lagi menjalankan proses tanam dari awal, melainkan hanya menyulam pohon kopi yang sudah mati.
“Kalau sekarang dalam era tahun 2000 ke belakang ini kita sudah tidak kerajinan kopi. Sifatnya hanya nyulam,” tuturnya.
Kurang lebih ketika sudah usia 2 tahun, setelah proses tanam, pohon kopi akan mulai berbuah.
Selama mulai proses penanaman kopi, ada perawatan yang harus dikerjakan oleh petugas perkebunan, meliputi pembabatan (jombret) dengan kurun waktu setahun tiga kali.
“Kalau jombret itu dilakukan berarti 4 bulan sekali. Dibabat gulmanya. Karena tanaman kopi itu seharusnya bersih terus, tidak boleh ada rumput tinggi,” kata dia.
Untuk perawatan selanjutnya, yaitu wiwil yang meliputi kasar, halus, dan pasca panen.
“Tiap batang kan ada tunas. Tunas dari bawah itu dibuang. Tapi disisakan apabila tanaman pokoknya itu tidak bagus disisakan saja. Satu (batang tunas) dipelihara,” ucapnya.
Dari masa pertumbuhan hingga panen, yang menjadi tantangan untuk dihindari pada tanaman kopi adalah hama semut merah.
“Ada hamanya, terutama semut merah. Semut hitam itu mengganggu saat panen petik kopi,” ungkapnya.
Kopi di Perkebunan Sentul dipanen mulai bulan Mei hingga Agustus. Sedangkan untuk di bulan September, hanya memilih sisa kopi dari panen bulan sebelumnya.
“Tinggal pilih bawah itu milih (sisa kopi) yang jatuh-jatuh. Kalau zaman dulu lelesan,” ujarnya.
Meskipun demikian, kata Suparno kini produksi kopi sudah tak lagi relevan di zaman sekarang untuk dijual berbentuk gelondongan, karena banyak yang menjualnya berbentuk ose (Green Bean).
Selain itu, biaya untuk proses bedeng batang pohon kopi cukup mahal.
“Sekarang itu kita mengharapkan perusahaan perkebunan itu biayanya dikit, penghasilannya lumayan,” ucapnya.
Kata Suparno, hanya untuk kebutuhan bedeng pohon kopi, perusahaan perkebunan tidak cukup merogoh saku Rp 5 juta.
Belum lagi, perusahan harus dihadapkan dengan tidak menentunya harga kopi di pasaran.
“Sekarang aja bagus 3 tahun ini. Sekarang Rp 70 ribu (1 kg). Kalau dulu Rp 23.000;. Jadi Rp23.000 itu kopi 1 kilo, tidak cukup bayar buruh kerjanya,” ungkapnya.
Menurutnya, pihak perkebunan kini sudah banyak beralih ke tanaman karet.
“Makanya perusahaan perkebunan tidak berani budidaya kopi skala besar. Sekarang banyak beralih ke karet,” kata dia.
Alasan itu dikarenakan, meskipun perusahan ada penghasilan dari setiap tahun panen, namun biaya untuk membayar pekerja lumayan besar, sedangkan harga kopi juga tidak pasti stabil.






