Frensia.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember mencatat tingkat inflasi (kenaikan harga) tahunan (year-on-year) di Jember pada Juli 2026 mencapai 2,53 persen.
Adapun penyumbang utama inflasi pada Juli 2026 secara tahunan didominasi oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa lainnya.
Sedangkan komoditas penyumbang andil inflasi pada kelompok tersebut, yaitu emas perhiasan dengan andil sebesar 0,60 persen.
Namun, untuk secara umum komoditas penyumbang inflasi tahunan di Jember, meliputi emas perhiasan, beras, minyak goreng, bensin dan daging sapi.
Kepala BPS Kabupaten Jember, Peni Dwi Wahyu Winarsih, menyampaikan bahwa inflasi tahunan di Jember di tahun 2026, secara umum masih dalam kondisi normal dan terkendali.
“Pemerintah bersama Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen kurang lebih 1 persen, sehingga kisaran 1,5 hingga 3,5 persen masih dianggap kondusif bagi perekonomian,” ucap Peni, saat dikonfirmasi, pada Rabu (5/8/2026).
Peni menjelaskan bahwa indikator inflasi tahunan tersebut, masih terbilang normal, karena sesuai sasaran inflasi nasional.
Selain itu, deflasi di bulan Juli lebih banyak dipicu meningkatnya pasokan pangan dan penurunan permintaan musiman, bukan penurunan konsumsi secara luas.
Lebih lanjut, kata dia, hal itu juga ditandai dengan tidak terlihatnya gejala deflasi berkepanjangan, yang biasanya menjadi sinyal perlambatan ekonomi.
Inflasi tahunan di Jember pada Juli 2026 sebesar 2,53 persen ini lebih tinggi, apabila dibandingkan bulan yang sama di tahun 2025 sebesar 2,01 persen.
Lebih rendah juga, dibandingkan tahun sebelumnya pada 2024 yang inflasinya sebesar 1,88 persen.
Sementara itu, kata Peni untuk Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jember pada Juli 2026, mengalami deflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,24 persen.
“Deflasi ini terutama dipengaruhi turunnya harga komoditas pangan seperti bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan telur ayam ras sehingga kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi terbesar sebesar -0,33 persen,” kata Peni.
Meskipun, kata dia, dari persentase deflasi tersebut, tidak dapat langsung diartikan bahwa daya beli masyarakat melemah atau meningkat.
“Dalam kasus Juli 2026, deflasi lebih banyak dipicu oleh meningkatnya pasokan hortikultura dan menurunnya permintaan beberapa komoditas, khususnya telur ayam ras, sehingga lebih mencerminkan penyesuaian harga akibat sisi penawaran (supply), dibandingkan penurunan kemampuan masyarakat membeli barang,” tuturnya.
Menurutnya, deflasi secara bulanan dengan persentase 0,24 persen di bulan Juli 2026, yang mengakibatkan penurunan harga kebutuhan pokok, belum bisa dijadikan indikator melemahnya daya beli masyarakat.
Dia menyebut bahwa dalam rilis BPS untuk penurunan harga dipicu oleh meningkatnya produksi hortikultura dan pasokan yang lebih melimpah.
Selain itu, juga dipengaruhi oleh menurunnya permintaan telur ayam ras, karena sebagian dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berhenti sementara selama libur sekolah.
“Perubahan harga lebih banyak disebabkan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan, bukan semata-mata perubahan kemampuan konsumsi masyarakat,” tuturnya.






