Frensia.id – Goresan canting pada Batikmatika telah menghadirkan motif baru di Hari Batik Nasional, yang diperingati setiap 2 Oktober. Kali ini, motif yang disuguhkan oleh Batikmatika yaitu Nusantara Series.
Motif tersebut merupakan perpaduan dari konsep matematika dengan kekayaan alam dan budaya, termasuk di dalamnya mengangkat cerita tentang hutan Kalimantan hingga konflik di Papua.
Owner Batikmatika Universitas Islam Jember (UIJ), Fury Styo Siskawati, mengatakan munculnya ide Nusantara Series merupakan pembaruan dari motif sebelumnya yakni kearifan lokal Jember.
“Untuk Hari Batik ini kita mengangkat tema Batikmatika Nusantara. Kita mengkolaborasikan motif matematika dengan rumah adat, hewan khas, kemudian ada tarian adat yang ada di berbagai wilayah di seluruh Indonesia,” kata Fury, pada Jum’at (2/10/2026).
Adapun dari konsep tersebut, sehingga menghasilkan perpaduan motif di antaranya Geometri Minangkabau, Geometri Sajojo, Vektor Pakarena, Rencong Aljabar, dan Cenderawasih Bilangan, serta Ruai Lingkaran.
Konsep matematika menjadi sumber inspirasi awal untuk memadukan beragamnya motif Nusantara.
Perpaduan itu berasal dari gerakan tari, bentuk rumah adat, hingga karakter satwa yang didesain agar motif batik mengandung unsur geometri, vektor, maupun bilangan.
“Kita pakai Tari Pakarena, jadi Geometri Pakarena. Dalam gerakan tari itu kita bisa menggambarkan bentuk-bentuk geometri di dalamnya,” tuturnya.
Dari kesekian perpaduan motif, salah satu yang memiliki peristiwa sosial dengan lingkungan yaitu Ruai.
Motif itu terinspirasi dari Burung ruai yang tempat hidupnya terancam akibat insiden kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan.
“Kita ikut sedih dengan kebakaran yang ada di Kalimantan. Kita mengangkat tema Ruai dengan mengkolaborasikan burung ruai dan matematika,” ungkapnya.
Pesan yang ingin sampaikan dari diangkatnya motif burung ruai, merupakan bentuk dukungan dalam pelestarian hutan Kalimantan.
Batikmatika ingin menghadirkan bahwa batik yang digarapnya punya kesan kepedulian terhadap lingkungan, dengan tanpa meninggalkan konsep matematika sebagai identitas utama motif.
Dalam motif Nusantara Series, Fury juga mengangkat tema dari konflik yang terjadi di Papua.
“Di Papua itu juga sedang ada konflik-konflik. Jadi kita juga mengangkat Tari Sajojo. Sajojo itu dikolaborasikan dengan vektor,” ucapnya.
Sementara itu, untuk budaya Minangkabau, motif bentuk rumah adat yang dipadukan dengan unsur-unsur geometri pada kain batik.
Dari beragamnya perpaduan konsep tersebut, sehingga menjadikan membuat setiap motif memiliki pesan dan pendekatan matematika yang berbeda.
Fury yang merupakan dosen pengampu mata kuliah Aljabar di UIJ itu, mengaku bahwa untuk ide motif murni dari dirinya sendiri, namun untuk proses membatik dan pewarnaan tetap melibatkan pembatik mitra.
“Kalau masih ide motif itu dari saya sendiri. Tapi untuk realisasi kainnya, membatiknya dan mewarnanya, kita masih tetap bermitra dengan pembatik,” tuturnya.
Kain batik dari motif Nusantara Series masih belum dikenalkan pada masyarakat.
Oleh karena itu, Batikmatika kini mulai melakukan pengenalan secara bertahap, di antaranya melalui lingkungan kampus, pameran di Jember, dan sejumlah kegiatan sekolah di luar kota.
Dalam kemajuan pengerjaan, Batikmatika kini telah memiliki ruang laboratorium batik yang berfungsi untuk produksi dalam skala kecil.
Untuk produksi dalam jumlah lebih besar, Batikmatika mengerjakannya bersama mitra, yakni Kampung Batik Sanggar Werno Werni.
Mahasiswa yang mengikuti praktik membatik menyesuaikan angkatan studi di kampus. Karena setiap angkatan akan berganti apabila studinya telah selesai.
Fury berharap dari karya yang digarap mahasiswa dapat digunakan menjadi seragam bagi tenaga pendidik dan dosen di kampus Ahlussunnah Waljamaah tersebut.
“Ke depannya kita pengin seuniversitas pakai Batikmatika. Karena di setiap kegiatan kita selalu tampil. Rasanya sangat disayangkan kalau universitas enggak mau pakai seragam Batikmatika,” tegasnya.***






