BBM Dikadali, Negara ke Mana?

Thursday, 27 February 2025 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id- Rakyat disuruh irit, tapi ada yang berpesta dengan Rp 193,7 triliun. Duit sebesar itu cukup untuk menyekolahkan jutaan anak, membangun rumah sakit, atau setidaknya menjaga harga BBM agar rakyat tak megap-megap. Tapi apa daya, yang tersisa cuma asap. Uang itu raib dalam skandal yang menyeret Pertamina. 

Jika terbukti, ini akan jadi megakorupsi terbesar kedua di Indonesia setelah kasus PT Timah yang menelan Rp 300 triliun. Kejaksaan Agung menduga ada permainan kotor di kilang minyak, dari akal-akalan tata kelola hingga dugaan pengoplosan Pertalite jadi Pertamax. Rakyat membayar lebih mahal, tapi yang didapat mungkin cuma bensin oplosan. 

Korupsi di negeri ini bukan barang baru, tapi yang satu ini jelas bukan kelas teri. Menggerakkan uang sebesar itu butuh jaringan kuat, sistem yang bisa melindungi pemainnya, serta keberanian tingkat tinggi. Ini bukan kerja segelintir orang. Korupsi ratusan miliar saja sulit disembunyikan, apalagi triliunan.

Baca Juga :  Cipayung Plus dan BEM Se-Jember Turun Demo Tuntut Turunkan Harga BBM hingga Hentikan Militerisasi Ruang Sipil

Rakyat berhak menaruh curiga. Jika uang sebanyak ini bisa lolos tanpa terendus selama bertahun-tahun, jelas bukan sekadar pencurian. Ini adalah perampokan yang dilegalkan oleh sistem yang pura-pura buta. 

Yang menarik, kasus ini baru terbongkar sekarang. Padahal, kejadiannya berlangsung sejak 2018 hingga 2023. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Uang yang bocor bukan recehan. Lalu, bagaimana bisa tak ada yang mencium gelagatnya sejak awal? Sungguh pengawasan macam apa yang bisa kecolongan sebesar ini? Jangan-jangan, bukan kecolongan, melainkan pembiaran. Atau ada kepentingan politik yang baru saja bergeser, sehingga pemain lama tak lagi punya perlindungan. 

Pertamina buru-buru membantah ada permainan oplosan. Yang ada, katanya, hanya masalah tata kelola minyak. Sebuah kalimat yang terlalu sering kita dengar dan tak lagi mengejutkan. Yang justru menarik, publik lebih percaya Kejaksaan Agung ketimbang Pertamina. Bukan karena Kejaksaan Agung dianggap lebih bersih, tapi karena alasan “salah administrasi” sudah terlalu basi. 

Baca Juga :  Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Yang jelas, rakyat tak hanya kehilangan uang, tapi juga kepercayaan. Selama ini, kenaikan harga BBM selalu dikemas dengan narasi stabilitas ekonomi. Tapi kini, setelah ketahuan ada permainan kotor, siapa yang harus diminta berhemat? Jika benar ada manipulasi kualitas BBM, berapa banyak kendaraan yang rusak akibat bahan bakar oplosan? Berapa banyak hak konsumen yang dilanggar? 

Seperti biasa, skandal besar akan membuat gaduh sebentar sebelum akhirnya menguap. Pemerintah membentuk tim investigasi, beberapa tersangka diumumkan, sidang digelar, lalu hukuman ringan dijatuhkan. Pemain besar? Biasanya cukup angkat koper ke luar negeri. 

Uang Rp 193,7 triliun itu raib. Pejabatnya aman. Rakyatnya? Dapat harga BBM mahal dan imbauan hemat. Seperti biasa, yang kaya makin jaya, yang kecil diminta sabar.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran
Sekolah Itu Taman, Bung!
Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU
Pancasila dan Realitas Kesejahteraan Pendidik di Indonesia
Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti
Menyiramkan Air Keras ke Wajah Seseorang, itu Hanya Kenakalan?
Jalan Strategi: Pengakuan Tim Sukses Pilkades
Representasi Diri
Tag :

Baca Lainnya

Sunday, 19 July 2026 - 20:26 WIB

Kader GP Ansor dan Empat Metafor Rumah Kebesaran

Thursday, 16 July 2026 - 10:40 WIB

Sekolah Itu Taman, Bung!

Monday, 29 June 2026 - 13:22 WIB

Smash Ngawur! Main Voli Di Hadapan Warga NU

Monday, 8 June 2026 - 23:36 WIB

Pancasila dan Realitas Kesejahteraan Pendidik di Indonesia

Monday, 1 June 2026 - 07:39 WIB

Profesi Berkuasa: Pembahasan yang Tidak Pasti

TERBARU

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI, Teguh Setyabudi (Foto: Fadli/Frensia).

Politia

Dirjen Dukcapil Apresiasi Layanan Peta Cinta Pemkab Jember

Thursday, 6 Aug 2026 - 21:44 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading