Independent Woman “Ancaman” Bagi Perkawinan ?

Sunday, 20 October 2024 - 22:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Pernikahan/perkawinan bagi manusia merupakan salah satu momen terspesial dalam perjalanan hidupnya. Tak jarang disebut sebagai lembaran hidup yang baru, itu terlihat dalam ungkapan, doa yang tertera dalam dekorasi banner pernikahan “Selamat menempuh hidup baru”. Ucapan ini seperti aba-aba di garis start, tapi bukan lari maraton, melainkan perjalanan panjang bersama ‘orang baru’ dengan segala romantika dan tanggungjawab yang baru pula.

Memasuki pintu pernikahan bersama orang baru – terlebih saling mencintai—seperti mengetuk pintu kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah dijumpai. Tidak bisa diungkapkan dengan huruf dan angka seperti angka deret pada soal SKD CPNS, bahagia tiada tara. Namun, siapa sangka, angka pernikahan Indonesia mengejutkan, bukan karena meningkat, justru semakin menurun.

Berdasarkan data dari badan pusat statistik (BPS) 2024 angka pernikahan di Indonesia semakin mengalami penurunan. Tahun 2023, jumlah pernikahan di Indonesia sebanyak 1.577.255, dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2022), angka perkawinan ini mengalami penurunan sebanyak 128.000. Sementara dalam satu dekade terkahir angka pernikahan menurun sebanyak 28,63 persen.

Baca Juga :  Musda ke-XI MUI Jember Resmi Dibuka, KH Abdul Haris Tekankan Independensi Lembaga

Pemicu turunnya angka pernikahan diungkap oleh Prof. Dr. Bagong Suyanto, Guru besar dari Universitas Arilangga (UNAIR) Surabaya, seperti dilansir dari lama resmi UNAIR, ia menjelaskan penurunan tersebut di picu oleh semakin lebarnya akses bagi perempuan untuk mengembangkan potensi dirinya. Sehingga perempuan menjadi pribadi yang lebih mandiri, istilah akrabnya ‘Independen Woman’.

“Angka itu turun karena kesempatan perempuan untuk sekolah dan bekerja semakin terbuka lebar. Di samping itu ketergantungan perempuan juga menurun” ungkapnya

Prof. Bagong juga mengungkapkan faktor lain yang turut berkontribusi terhadap penurunan angka pernikahan adalah akumulasi ‘laki-laki mapan’. Sebuah keadaan ekonomi yang belum mapan karena sulitnya sebuah pekerjaan.

Namun demikian, menurut Guru besar Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik ini keberadaan fenomena semacam ini bukanlah ancaman yang perlu dikhawatirkan. Justru, perubahan ini merupakan bagian dari dinamika sosial yang terjadi secara alami. Lebih jauh dari itu, penurunan pernikahan harus dipastikan berdampak positif untuk memperdayakan perempuan dan masyarakat.

Baca Juga :  Kepala Kepelatihan Pagar Nusa UIN KHAS Jember Raih Juara di Kejurprov IBCA MMA Surabaya

Bagaimanapun juga, fenomena berkurangnya perkawinan sebagai konsekuensi logis dari independensi perempuan tidak bisa dianggap sebagai suatu yang wajar dan bisa-biasa saja. Terutama menempatkan kemandirian secara berlebihan, ada beberapa potensi dampak negatif yang mungkin perlu di waspadai.

Bukan ingin membatasi perempuan berkarier, berkiprah seluas-luasnya dan mandiri dalam finansial. Hanya saja berlebihan sangat mungkin menimbulkan keinginan untuk tidak membangun komitmen jangka panjang, seperti pernikahan. Bukan suatu yang mustahil kemandirian yang berlebihan dapat membuat perempuan enggan menerima pernikahan sebagai sesuatu yang penting dalam hidup.

Relasi sosial mengalami krisis bahkan tidak dibutuhkan lagi. Padahal pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial, khususnya laki-laki dan perempuan memang oleh Tuhan dicipta untuk berpasang-pasangan. Penting refleksikan independen women ini perlu diimbangi dengan nilai-nilai sosial dan emosional yang sehat. Karena pada akhirnya, kebagian tidak saja soal mampu hidup sendiri, melainkan tentang berbagi dan saling melengkapi.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

BEM Nusantara Tapal Kuda Tolak SPPG Dibangun di Kampus
Menarik! Review Kajian Bullying Mendorong Partisipasi Pencegahan Berbasis Teknologi
Kepala Kepelatihan Pagar Nusa UIN KHAS Jember Raih Juara di Kejurprov IBCA MMA Surabaya
Migrant Care Jember Soroti Modus Baru TPPO di Dalam Kampus
FTIK UIN KHAS Jember Tekankan Penguatan Ekosistem Akademik Mahasiswa di Rakerpim 2026
Diriset! Gambus Ternyata Berhubungan Dengan Ide-Ide Musik Al Farabi
Kisah Khamida, Alumnus FTIK UIN KHAS Jember Penggagas ‘Sahabat Murojaah’
Cerita Edo, Sosok Santri dan Mahasiswa Fuah UIN KHAS Jember yang Terpilih Google Student Ambassador
Tag :

Baca Lainnya

Wednesday, 6 May 2026 - 21:56 WIB

BEM Nusantara Tapal Kuda Tolak SPPG Dibangun di Kampus

Wednesday, 6 May 2026 - 17:45 WIB

Menarik! Review Kajian Bullying Mendorong Partisipasi Pencegahan Berbasis Teknologi

Monday, 4 May 2026 - 20:33 WIB

Kepala Kepelatihan Pagar Nusa UIN KHAS Jember Raih Juara di Kejurprov IBCA MMA Surabaya

Friday, 1 May 2026 - 22:47 WIB

Migrant Care Jember Soroti Modus Baru TPPO di Dalam Kampus

Friday, 1 May 2026 - 13:30 WIB

FTIK UIN KHAS Jember Tekankan Penguatan Ekosistem Akademik Mahasiswa di Rakerpim 2026

TERBARU

Anggota BEM Nusantara Keresidenan Tapal Kuda, saat sedang berkumpul di Puncak Rembangan, Jember, (Foto: Istimewa).

Educatia

BEM Nusantara Tapal Kuda Tolak SPPG Dibangun di Kampus

Wednesday, 6 May 2026 - 21:56 WIB