Nadya, Perempuan Cantik Progresif UGM: Ringkihnya Konstitusi di Tengah Krisis Demokrasi

Saturday, 31 August 2024 - 09:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Di tengah gemuruh krisis demokrasi yang mengancam stabilitas bangsa, muncul sosok Nadya, perempuan cantik dan progresif dari UGM, yang tidak hanya memikat perhatian dengan pesonanya tetapi juga dengan tekadnya yang membara. Dengan berani, dia menolak kemunduran konstitusi dan menyerukan perlawanan terhadap kelemahan yang mengancam demokrasi Indonesia.

Bernama lengkap Shalsadilla Nadya Prameswary, wakil wisudawan yang menyampaikan pidato sambutan mahasiswa terbaik pada acara wisuda program sarjana UGM di Grha Sabha Pramana Yogyakarta, tempo hari yang lalu. Pidatonya bikin heboh lantaran ia menyuarakan dan menyenggol darurat demokrasi, hal yang tak lumrah dilakukan pada umunya.

Saat ruang wisuda dipenuhi dengan keheningan seremonial, Ia mengajak generasi muda untuk menyolidkan barisan mengawal daruratnya demokrasi. Sebuah kilauan gagasan yang tak bisa dianggap remeh.

“Hari ini, resmi sudah kita menjadi bagian dari keluarga alumni Gadjah Mada, cikal bakal figur hebat yang akan mewarnai Indonesia nantinya. Pada hari ini, saya harap, saya, teman-teman, kita generasi muda, bisa mengibarkan sayap Garuda agar tidak kehilangan gagahnya. Di momen krusial bagi negeri kita ini, mari eratkan barisan untuk mengawal daruratnya demokrasi”. Kata Nadya dalam pidato.

Ungkapan ini patut diacungkan apresiasi, pasalnya pernyataan mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM ini tersemat ajakan moral untuk terus menjaga kehormatan bangsa. Sebagai seorang intelektual, sarjana harus selalu prihatin terhadap kondisi demokrasi Indonesia.

Apalagi Indonesia sering kali dihadapkan dengan situasi “darurat demokrasi”. Kondisi demokrasi yang selalu diujung tanduk ini adalah permasalahan akut dari dulu hingga sekarang, tak kunjung usai.

Baca Juga :  Mantan Kepala Inspektorat Jember Akui Pernah Periksa Hisyam di Ruangannya

Pada momen krusial semacam ini, ungkapan “mari eratkan barisan untuk mengawal daruratnya demokrasi” mengandung pesan yang sangat mendalam, bahkan menggelitik hati nurani kaum sarjana yang terbuai oleh dinamika hidup sehari-hari. Pernyataan ini menggunggah kesadaran, bahwa generasi muda diharapkan tidak sekedar fokus pada karier pribadi, melainkan berperan aktif menjaga dan memperbaiki kondisi demokrasi.

Demokrasi, dalam pengertian ilmiah dipahami sebuah sistem politik yang idealnya menjaga keseimbangan antara kepentingan rakyat dan mekanisme kekuasaan. Ketika demokrasi sedang tidak baik-baik saja, artinya ia berada dalam krisis akut, ditandai kebebasan berpendapat mulai dibatasi dan dikekang, hak-hak dasar juga mulai tergerus. Lebih parahnya, hukum dan konstitusi sebagai perisai pelindung rakyat justru dihancurkan oleh kekuasan elit yan haus kuasa.

Padahal konstitusi adalah fondasi sebuah sistem pemerintahan demokratis. Menetapkan aturan dan prinsip dasar yang menjaga keseimbangan kekuasaan, melindungi hak-hak individu dan memandu proses politik. Disaat konstitusi dianggap sedang ringkih –yakni, mudah diserang, didesain dengan serampangan, dimodifikasi secara sembarangan, tidak diindahkan– demokrasi sebagai sistem pemerintahan dapat terancam.

Konstitusi yang ringkih kerapkali memperlihatkan partisipasi masyarakat sipil lemah dan institusi yang tidak berfungsi dengan baik. Ketika masyarakat tidak terlibat secara aktif dalam pemeliharaan dan pengawasan konstitusi, ada risiko besar yang secara tidak sadar disuguhkan pada bangsa ini, aturan dasar negara bisa dipermainkan, diabaikan dan di distorsi demi kepentingan pribadi.

Baca Juga :  Komisi B DPRD Jember Soroti Insentif Pajak Petani yang Lahannya Masuk LP2B

Mengawal ringkihnya konstitusi pada situasi daruratnya demokrasi di sini memberikan notifikasi peringatan mengenai bangsa ini sedang menghadapi situasi gawat. Keadaan yang tidak bisa diselesaikan dengan sekedar wacana di meja-meja diskusi tanpa aksi nyata. Dapat dituntaskan hanya dengan santai seperti menikmati secangkir kopi kental di pagi hari.

Semua masyarakat harus sadar dengan situasi darurat demokrasi ini, terutama kaum intelektual muda, para sarjana, yang memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan demokrasi ini runtuh begitu saja. Ajakan rapatkan barisan mengawal daruratnya demokrasi, terkandung elemen solidaritas yang sangat kental dalam pesan itu.

Eratkan barisan menolak ringkihnya konstitusi di tengah krisis demokrasi ini, tidak sekedar dimaknai bergandengan tangan dalam demonstrasi, namun menyatukan kita visi, menyinkronkan langkah serta memperkuat persatuan mencaunter segala bentuk ancaman yang mencabik-cabik demokrasi. Kelompok yang bersatu dan diikat oleh tujuan yang sama, memiliki kekuatan lebih besar dalam membawa perubahan sosial, ketimbang individu-individu yang bergerak sendiri-sendiri.

Kesemua ini harus dianggap sebagai sebuah manifesto, sebagai alarm atau panggilan bagi setiap warga negara yan masih memiliki hati nurani dan semangat kebangsaan untuk bersatu, menjaga dan mengawal konstitusi serta memperkuat demokrasi.

Jika bangsa ini gagal dalam tugas ini, jangan kaget jika nanti hanya mengenang demokrasi sebagai bagian dari lembaran sejarah yang indah, namun sayangnya telah sirna dan kehilangan makna dalam kehidupan nyata.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Bupati Jember akan Renovasi Pasar Tanjung Senilai Rp250 Miliar dari Dana APBN
Penjelasan Ketua DPRD Jember terkait Persetujuan Anggaran Raperda Perubahan APBD Tahun 2026
Respons Gus Fawait soal Desas-Desus Proyeksi Maju di Pilgub Jatim 2029
Gus Fawait Pastikan Revitalisasi Sekolah di Jember Tahun 2026 Naik 100 Persen Dibanding 2025
Mantan Kepala Inspektorat Jember Akui Pernah Periksa Hisyam di Ruangannya
Mantan Kepala BKPSDM Jember Ngaku 2 Kali Surati Inspektorat Usut Polemik ASN 13 Hari Bolos Kerja
Mangkir Kerja 13 Hari Pejabat Pemkab Jember Dilaporkan ke BKN, Rupanya Bermasalah Sejak di Bawaslu
Bupati Jember Bagikan Makanan ke Warga saat Tinjau Antrean BBM di SPBU

Baca Lainnya

Wednesday, 16 September 2026 - 19:26 WIB

Bupati Jember akan Renovasi Pasar Tanjung Senilai Rp250 Miliar dari Dana APBN

Monday, 14 September 2026 - 20:58 WIB

Penjelasan Ketua DPRD Jember terkait Persetujuan Anggaran Raperda Perubahan APBD Tahun 2026

Monday, 14 September 2026 - 20:51 WIB

Respons Gus Fawait soal Desas-Desus Proyeksi Maju di Pilgub Jatim 2029

Monday, 14 September 2026 - 20:26 WIB

Gus Fawait Pastikan Revitalisasi Sekolah di Jember Tahun 2026 Naik 100 Persen Dibanding 2025

Monday, 14 September 2026 - 19:53 WIB

Mantan Kepala Inspektorat Jember Akui Pernah Periksa Hisyam di Ruangannya

TERBARU

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Abdul Muis. (Foto: Humas UIN KHAS).

Educatia

Respons Ketua IKA UIN KHAS soal Penjaringan Bakal Calon Rektor

Friday, 18 Sep 2026 - 14:41 WIB

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achamd Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Abdul Muis. (Foto: Foto Pribadi).

Educatia

Ketua IKA UIN KHAS Jember Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar

Friday, 18 Sep 2026 - 14:35 WIB

Ilustrasi Nietzsche dan pernikahan (Sumber: AI)

Kolomiah

Pandangan Nietzsche Agar Pernikahan Tidak Berujung Cerai

Friday, 18 Sep 2026 - 13:28 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading