Frensia.id – Warga digegerkan dengan penemuan mayat pria tanpa identitas di area Kuburan Cina, Dusun Krajan, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Jember.
Mayat tersebut ditemukan pertama kali oleh pencari burung dalam kondisi sudah membusuk.
Kapolsek Kencong Jember, AKP Sunarto, mengungkapkan penemuan mayat bermula saat pencari burung berkeliling di sekitar kuburan tersebut, dan mencium adanya bau busuk. Setelah didekati ternyata ditemukan sesosok mayat.
Kata Sunarto, setelah mengetahui informasi tersebut, para pencari burung melaporkan kejadian itu kepada Polsek Kencong.
“Kami langsung menindaklanjuti dengan mendatangi TKP, melakukan observasi dan olah TKP,” kata Sunarto, Jum’at (16/10/2026), kemarin hari.
Setelah dilakukan olah TKP, pihak kepolisian menghubungi petugas medis untuk membantu mengevakuasi mayat ke Puskesmas Kencong.
Sunarto berkata pihak kepolisian berupaya melakukan identifikasi terhadap mayat tersebut.
“Beberapa informasi kami kumpulkan, dan alhamdulillah informasi mengerucut dan identitas mayat kami ketahui. Baik, keluarga dalam hal ini anak kandungnya,” tuturnya.
Kata dia, dari keterangan anak kandung, bernama Fitriyah, menyampaikan memang benar bahwa dari ciri-ciri khusus, yakni pakaian pada mayat tersebut, sesuai dengan yang terakhir kali digunakan mendiang saat hidup.
Selain itu, Sunarto juga mengatakan untuk ciri khusus kedua, adanya tato gambar jangkar yang berada di dada sebelah kanan. Tanda tersebut yang menguatkan bahwa mayat itu merupakan orang tua dari anak bernama Fitriyah.
Menurut Sunarto, dari keterangan yang disampaikan Fitriyah, bahwa orang tuanya meninggal di usia kurang lebih 60 tahun. Mendiang selama hidupnya mengalami sakit stroke dan pikun.
Sunarto menyampaikan bahwa mendiang meninggalkan rumah tanpa pamit, karena memang dalam kondisi pikun kurang lebih sekitar 2 minggu, sebelum ditemukan meninggal, pada Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Lebih lanjut, Sunarto mengatakan pihak keluarga menerima kondisi penemuan mayat tersebut dengan ikhlas, karena menyadari bahwa mendiang memang mengalami sakit stroke dan kepikunan.
Di sisi lain, pihak keluarga dalam hal ini anaknya juga menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah.
Hal tersebut dituangkan di dalam surat pernyataan penolakan autopsi, karena dari keterangan medis juga tidak diketemukannya tanda-tanda kekerasan pada jenazah.***






