Frensia.id – Pengelola wisata alam Kalijompo, Zainul Muhtadi, merespons terkait adanya penutupan akses kunjungan wisatawan yang direncanakan oleh Kepala Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Jember, Abdul Gafur.
Penutupan tersebut dikarenakan jalan menuju wisata kini menjadi rusak dan menimbulkan kemacetan, serta tidak memberikan pendapatan pada desa.
Menurutnya, penutupan wisata Kalijompo tidak melibatkan persetujuan masyarakat desa setempat.
“Yang jelas itu sepihak. Karena oknum-oknum tersebut mengatasnamakan masyarakat, sedangkan (masyarakat) yang beraktifitas di wisata kalijompo memang warga sekitar,” kata Zainul, pada Sabtu (11/7/2026).
Zainul meminta agar pihak desa bisa mempertimbangkan penutupan tersebut, karena keberadaan wisata telah mengangkat perekonomian masyarakat sekitar.
Kata dia, terdapat 16 lapak UMKM dengan sekitar 40 orang warga sekitar yang telah aktif bekerja dan 27 petugas yang mengelola berjumlah berkisar 27 orang pada wisata Kalijompo.
Zainul menjelaskan alasan kepala desa meminta penutupan wisata Kalijompo karena telah merusak jalan.
“Menurut saya bukan pengunjung yang merusak jalan, karena mobilnya bagus-bagus. Tetapi truk muatan yang tonasenya berat, seperti truk angkut kayu dan batu,” tuturnya.
Kata dia, tidak ada pembuktian jika kerusakan jalan disebabkan pengunjung wisata.
Lebih lanjut, terkait perizinan wisata, menurut Zainul, kepala desa tidak tahu bagaimana masyarakat setempat saat masih merintis pembukaan wisata tersebut.
“Kita pertama merintis itu bersama anggota DPRD Jember, Bapak Nyoman Aribowo, yang tahu sejarah perintisan wisata,” ujarnya.
Zainul juga menyampaikan perkataan Kepala Dinas Pariwisata Bambang Rudianto, saat wisata Kalijompo masih awal dibuka.
“Yang penting kegiatan berjalan dulu dan kalau masalah izin nanti sudah, kalau wisata benar-benar bisa berjalan secara permanen,” ucapnya.
Zainul menambahkan bahwa dengan adanya wisata tersebut agar berjalan telebih dulu.
“Karena kita belum tahu, perjalanan wisata ini maju atau tidak, seperti apa kedepan. Kita masih belum tahu. Sarannya Pak Rudi, yang penting bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar dulu,” ungkapnya.
Zainul bercerita pihaknya pernah mengajukan proposal ke pemerintah desa, namun kepala desa tidak mau menyetujuinya.
“Kita ke desa ngajukan proposal dua kali, dan disaat pengajuan dua kali juga kita ditolak tanda tangan. Itu masih ada berkas-berkasnya, bukan kita sembarangan ngomong dan ini bisa dipertanggungjawabkan,” kata dia.
Selain itu, persoalan kemacetan jalan, kata Zainul masalah itu tidak terjadi setiap hari.
Dia juga menyampaikan jika pihaknya telah menyiapkan petugas, di sepanjang jalan dengan kurang lebih 12 orang.
Wisata Kalijompo sudah mengalami dua kali akan ada rencana pengambilalihan oleh pihak Kepala desa.
Meskipun, kata dia, warga desa mengakui bahwa desa pernah mempunya wisata yang dianggarkan dari pemerintah desa, namun sudah macet.
“Kalau desa mensupport, kita welcome atau mendukung kita terbuka,” ujarnya.
Zainul juga sempat menanyakan kembali terkait penutupan tersebut ketika kepala desa mendatangi tempat wisata, pada Jum’at (10/7/2026) kemarin hari.
Namun, respon yang dia terima justru kepala desa hanya diam.
“Seharusnya kita duduk bersama, berdialog atau adu agumen, apa yang menjadi kegelisahan hati seorang kades kepada warganya,” tegasnya.






