Tapera: Aturan Yang Tidak Dibutuhkan, Namun Terlalu Dipaksakan

Sunday, 2 June 2024 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Aturan Tabungan Perumahan Rakyat yang dikeluarkan pemerintah melalui PP No 21 Tahun 2024, menuai penolakan tidak hanya hanya datang dari rakyat, pekerja namun dari pengusaha.

Hal ini menunjukkan PP Tapera ini tidak ada kepentingannya dengan pekerja, keberadaan peraturan ini blas tidak memberikan kemanfaatan bagi mereka.

Namun demikian, pemerintah tidak menghiraukan dan tidak menganggap serius penolakan tersebut. Sebaliknya, Presiden Jokowi menganggap hal itu yang wajar.

Bukan merespon dengan baik berbagai penolakan untuk untuk segera dievaluasi, malah menilai hal yang lumrah.

Tujuannya sih baik, agar pekerja bisa punya hunian atau rumah. Tapi aturan ini justru menabrak tujuan baik itu sendiri. Aturan ini sifatnya wajib dan terdapat sanksi bagi para pekerja jika tidak memenuhi kewajiban ini.

Kewajiban dan sanksi inilah yang memberatkan bagi pekerja.

Selain memberatkan pekerja, aturan ini sama sekali tidak logis dan rasional. Para bekerja dengan adanya pemangkasan gaji akan membuat mereka semakin ketar-ketir ditengah ongkos kebutuhan hidup semakin meroket.

Baca Juga :  DPD PSI Jember akan Resmikan Kantor Baru Partai: Rumah Perjuangan Bersama

Sebab Tapera bukan satu-satunya pemotongan gaji bagi pekerja, pada sisi lain upah pekerja sangat rendah imbas dengan adanya UU Cipta kerja. Jika masih dipaksa dan wajib membayar Tapera ini jelas menambah beban biaya hidup sehari-hari.

Belum lagi tanggungan hutang para pekerja baik pada koperasi, bank atau cicilan lainnya, apa tidak menambah beban hidup mereka. Bukankah pemerintah menggaungkan Tapera ini sifatnya tabungan, seharusnya tidak harus diwajibkan namun bersifat sukarela.

Tidak hanya itu, Tapera ini dalam banyak penilaian dan pengamatan sangat mustahil untuk bisa mewujudkan rumah. Dengan potongan Rp. 105.000,- misalnya, jika dikomparasikan dengan harga rumah 250 Juta, pekerja membutuhkan 166 tahun.

Sangat Mustahil sekali, apalagi harga rumah terus naik.

Dalam PP tapera ini tidak ada klausul yang menyebutkan subsidi pemerintah. Lagi-lagi pemerintah ambil enak saja, pinter ngatur tapi tidak ikut bantu. Malah orang yang punya rumah harus ikut Tapera.

Bagaimana jika rumah itu pemberian orang tua dan kebetulan pekerja lepas yang gajinya cukup untuk kebutuhan hidup? haruskan masih ikut Tapera dengan dalih subsidi silang saling membantu?

Baca Juga :  Kirab Ancak Agung Jember Pecahkan 2 Rekor MURI Sekaligus

Pertanyaannya pemerintah bantu tidak, kenapa tidak uang pensiunan DPR dan menteri dialihkan ke Tapera ini jika memang ingin rakyatnya punya hunian?

Jika Pemerintah tidak bisa membuat aturan yang membuat rakyat sejahtera, setidaknya jangan buat aturan yang memberatkan rakyat, khususnya yang tidak punya penghasilan besar.

Sesimpel itu sebenarnya, namun pemerintah punya segudang alasan yang menurut mereka sendiri benar, tanpa berpikir matang dan dengan hati, bagaimana imbasnya.

Jika pemerintah membuat aturan ini untuk pekerja, seharusnya tidak bertentangan dengan pekerja. Itulah yang disebut “Hukum untuk manusia, bukan manusia untuk hukum”, sebuah ungkapan terkenal dari Prof. Satjipto Rahardjo, Pakar Hukum Progresif, Indonesia.

Klausa/ketentuan yang kontradiksi dengan pekerja dihapus maupun diganti. Oleh Karena itu, pemerintah harus mengevaluasi dengan serius, baik merevisi atau/dan mencabut Peraturan Pemerintah tentang Tapera ini. (*)

* Moh. Wasik (Anggota LKBHI UIN KHAS Jember, Penggiat Filsafat Hukum)

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Gus Fawait Hadiri Pelantikan Pengurus PAC HKTI se-Jember
Bupati Jember Tetapkan Jam Operasional Pedagang Pasar Tanjung
Tekan Angka Kemiskinan, Pemkab Jember Sambangi BPS Pusat Bahas Integrasi Data
Antrean Pasien Menumpuk, Pemkab Jember Percepat Peningkatan Kapasitas RS Rujukan
Datang ke Jember, Komisi D DPRD Jatim Bahas Jalan Rusak dan Tambang Ilegal
DPRD Jember Lapor Polisi terkait Hilangnya 2 Batu Yoni Situs Pocangan Sukowono
DPRD Jember Dorong Adanya Klarifikasi Dugaan Disiplin ASN Pemkab Jember
Pemkab Jember Lakukan Uji Coba Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Samanhudi Depan Pasar Tanjung

Baca Lainnya

Saturday, 3 October 2026 - 23:27 WIB

Gus Fawait Hadiri Pelantikan Pengurus PAC HKTI se-Jember

Friday, 2 October 2026 - 21:17 WIB

Bupati Jember Tetapkan Jam Operasional Pedagang Pasar Tanjung

Thursday, 1 October 2026 - 13:55 WIB

Tekan Angka Kemiskinan, Pemkab Jember Sambangi BPS Pusat Bahas Integrasi Data

Wednesday, 30 September 2026 - 17:48 WIB

Antrean Pasien Menumpuk, Pemkab Jember Percepat Peningkatan Kapasitas RS Rujukan

Tuesday, 29 September 2026 - 18:42 WIB

Datang ke Jember, Komisi D DPRD Jatim Bahas Jalan Rusak dan Tambang Ilegal

TERBARU

Bupati Jember, Muhammad Fawait, saat sambutan di acara pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se-Kabupaten Jember. (Foto: Fadli/Frensia).

Politia

Gus Fawait Hadiri Pelantikan Pengurus PAC HKTI se-Jember

Saturday, 3 Oct 2026 - 23:27 WIB

Gambar Dua Sepeda Motor Terlibat Kecelakaan, Satu Pengendara Tewas (Sumber: Istimewa)

Regionalia

Dua Sepeda Motor Terlibat Kecelakaan, Satu Pengendara Tewas

Friday, 2 Oct 2026 - 21:55 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading