Islam Melarang Perempuan Independen?

Tuesday, 10 December 2024 - 09:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Dalam masyarakat kita, penyebutan ‘perempuan independan’ atau independent women makin lazim dan akrab terdengar. Perempuan yang berdaya secara ekonomi, berani mengutarakan pandangan, dan menentukan masa depannya sendiri, mandiri mengelola hidupnya dengan bijak, dipandang sebagai gambaran ideal era modern.

Bahkan, beberapa waktu lalu, ucapan salah satu artis tersohor tanah air, Prilly Latuconsina yang mengatakan di Indonesia saat ini banyak perempuan independen dan sedikit pria mapan, tak hanya membuat perbincangan perempuan mandiri kian meluas, tapi juga menuai pro dan kontra. Sejumlah pihak beranggapan kemandirian tersebut cermin perubahan struktur masyarakat yang menguntungkan kaum perempuan. Sementara itu, sebagian orang melihatnya sebagai ancaman nyata terhadap tatanan tradisional.

Namun demikian, pada umumnya, pergeseran nilai-nilai tersebut tak jarang mengundang beragam perdebatan. Apakah Islam melarang atau tidak menghendaki perempuan menjadi independen ? Jawabannya tidak sesederhana pada alternatif dua sisi “ya ” atau “tidak”. Dalam tradisi Islam, perempuan memegang peranan yang dihormati. Bahkan, kemandirian perempuan bukanlah hal baru dan bagian ajaran Islam yang sudah ada sejak lama.

Baca Juga :  Didukung Puluhan Tokoh Lintas Agama, UIN KHAS Kuatkan Gerakan Eko-Teologi Berkesadaran Moderasi

Salah satu figur perempuan yang terkenal luas dalam sejarah Islam adalah Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta Nabi Muhammad saw. Ia entrepreneur terkemuka dan pemilik kafilah perdagangan. Ia tidak hanya berdaya secara finansial, tetapi juga menjadi pendukung utama (kep player) dakwah Rasulullah. Dengan segudang kehebatan dan kemandirian ekonomi, Khadijah dipandang keluar dari pakem seorang perempuan Muslim? Sudah pasti tidak.

Kemandirian perempuan dalam Islam lebih sebatas urusan cuan, tapi juga soal nalar-mindset, spiritual dan relasi sosial. Islam memposisikan perempuan dalam kerangka tanggung jawab yang adil, tak terbatas pada kepatuhan buta. Perempuan memiliki kewenangan atas harta, merintis startup bisnis, dan menentukan ‘takdirnya’ sendiri. Hal ini ditegaskan dalam QS. An-Nisa (32) : ”Bagi lelaki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan.

Salah kaprahnya, yang terjadi dalam masyarakat adalah konsep ‘independen’ sering disalahartikan. Ketika Prilly mengungkapkan banyak perempuan independen di negeri ini, sejatinya mencerminkan fenomena yang lebih luas, yaitu kebangkitan kesadaran perempuan akan hak mereka. Tetapi, dalam proses ini, ada pula tren yang muncul untuk melabeli pria sebagai pihak yang terbatas kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca Juga :  UIN KHAS Jember Gelar Rakor Jelang Pelaksanaan UM-PTKIN 2026

Independen tidak berarti mengabaikan kewajiban sosial atau menihilkan peran laki-laki dan keluarga. Islam menanamkan harmoni antara hak individu dan tanggung jawab kolektif. Perempuan mandiri dalam ajaran Islam tidak melulu dilihat ia mandiri secara finansial ekonomi, ia juga harus teguh memegang nilai-nilai spiritual dan sosial.

Jika ada pandangan bahwa Islam mengekang ruang gerak perempuan, itu bukan karena Islamnya, melainkan praktik budaya yang kerap bersandar pada agama. Senyampang kemandirian ini mengindahkan prinsip keadilan dan tanggung jawab moral, Islam tidak pernah mencegahnya. Dengan demikian, keberadaan perempuan independen adalah kabar baik, ia bukan ancaman, apalagi bertentangan.*

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Tim Sekretariat UIN KHAS Jember Tingkatkan Kompetensi melalui Penguatan Profesionalitas
Dekan FEBI UIN KHAS Jember Beri Tahu Risiko Ekonomi Indonesia saat Rupiah dan IHSG Anjlok
UIN KHAS Jember Siapkan Keamanan Berlapis saat Pelaksanaan UM-PTKIN
UMPTKIN 2026 Resmi Dimulai, UIN KHAS Jember akan Terima 1.761 Camaba
Buku Kedua Puthut EA Tentang Mentalitet Korea Komandan Bambang Pacul
UIN KHAS Jember Gelar Rakor Jelang Pelaksanaan UM-PTKIN 2026
Cerita Izul, Mahasiswa FTIK UIN KHAS Jember Sosok Tokoh Utama Pemenang Kompetisi Video pada PMB PTKIN 2026
Rektor UIN KHAS Jember Ajak Bumikan Nilai Pancasila Lewat Lima Pilar Kemajuan Kampus

Baca Lainnya

Tuesday, 9 June 2026 - 23:37 WIB

Dekan FEBI UIN KHAS Jember Beri Tahu Risiko Ekonomi Indonesia saat Rupiah dan IHSG Anjlok

Monday, 8 June 2026 - 18:06 WIB

UIN KHAS Jember Siapkan Keamanan Berlapis saat Pelaksanaan UM-PTKIN

Monday, 8 June 2026 - 16:10 WIB

UMPTKIN 2026 Resmi Dimulai, UIN KHAS Jember akan Terima 1.761 Camaba

Sunday, 7 June 2026 - 12:58 WIB

Buku Kedua Puthut EA Tentang Mentalitet Korea Komandan Bambang Pacul

Tuesday, 2 June 2026 - 17:33 WIB

UIN KHAS Jember Gelar Rakor Jelang Pelaksanaan UM-PTKIN 2026

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading