FRENSIA.ID — Kasus perundungan (bullying) dan perundungan siber (cyberbullying) masih menjadi ancaman pervasif di berbagai kalangan. Meski teknologi terus berkembang, nyatanya banyak program pencegahan digital yang gagal memberikan hasil maksimal karena aplikasi atau program tersebut sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna aslinya.
Selama ini, banyak program anti-perundungan digital dibuat berdasarkan asumsi para pengembang saja tanpa benar-benar memahami apa yang dialami atau dibutuhkan oleh korban maupun saksi perundungan. Akibatnya, intervensi tersebut terasa berjarak dan kurang diminati oleh target penggunanya, terutama anak-anak dan remaja. Menjawab tantangan tersebut, sebuah tinjauan sistematis terbaru yang dipublikasikan pada oleh peneliti Keyu Chen dan Qiqi Chen menyoroti pentingnya sebuah pendekatan baru yang disebut Desain Partisipatif (Participatory Design/PD)23/02.
Melalui pendekatan Desain Partisipatif ini, posisi pengguna akhir diubah sehingga mereka tidak lagi hanya menjadi konsumen pasif, melainkan dilibatkan secara aktif sebagai kreator dalam merancang solusi digital tersebut. Dalam risetnya, Keyu dan Qiqi Chen melakukan pencarian di enam pangkalan data raksasa dan menganalisis 28 studi yang menggunakan metode PD untuk mengembangkan intervensi digital anti-perundungan.
Hasil tinjauan mereka merangkum lima tema utama yang menjadi kunci suksesnya teknologi pencegahan bullying. Kelima tema tersebut mencakup perlunya peran dan desain yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia pengguna, penerapan mekanisme PD yang selaras dengan landasan teori psikologi dan sosial, serta penyelarasan fitur digital dengan kebutuhan praktis siswa dan guru di lapangan.
Selain itu, temuan ini juga menyoroti bagaimana desain yang partisipatif terbukti meningkatkan kualitas implementasi program dan memberikan hasil awal yang lebih positif, sekaligus memetakan berbagai tantangan dan hambatan sebagai wawasan berharga bagi pengembang teknologi di masa depan.
Tinjauan sistematis demikian memberikan kerangka kerja yang sangat praktis bagi pengembangan pencegahan digital yang berpusat pada pengguna (user-centered). Penyatuan antara inovasi teknologi dengan pengalaman nyata para siswa dan guru terbukti menjadi strategi yang jauh lebih ampuh untuk melawan perundungan.
Ke depannya, para peneliti merekomendasikan agar studi selanjutnya lebih memprioritaskan keterlibatan kelompok-kelompok minoritas yang rentan dan kurang terwakili, serta melakukan evaluasi jangka panjang untuk benar-benar mengoptimalkan intervensi berbasis Desain Partisipatif ini. Jadi, untuk menghentikan perundungan secara efektif, kita tidak bisa sekadar membuatkan aplikasi untuk anak-anak, tetapi kita harus merancangnya bersama mereka.
Penulis : Mashur Imam






