FRENSIA.ID– Buku Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto terus menjadi perbincangan sejak diluncurkan Juni lalu. Frensia Institute, lembaga riset yang menyoroti isu politik dan media, memaparkan hasil pemetaan terbaru atas arus pemberitaan buku tersebut.
Dalam kajian itu, ditemukan ketimpangan mencolok antara volume pemberitaan afirmatif dan pemberitaan yang menguji klaim di dalam buku.
Peneliti Frensia Institute, Faiq Al Himam, membeberkan temuan tersebut berdasarkan penelusuran pemberitaan daring periode Juni hingga Agustus 2026.
“Buku ini memuat 108 klaim solusi yang dibagi ke dalam 13 tema besar. Tapi sampai hari ini, hampir tidak ada liputan yang menguji satu per satu klaim itu dengan data independen,” jelasnya, Jumat, 21/08/2026.
Buku tersebut ditulis Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari bersama dua Asisten Khusus Presiden, Dirgayuza Setiawan dan Agung Gumilar Saputra. Peluncurannya digelar di University Club, Jakarta Selatan, 8 Juni 2026.
Menurut ANTARA, 108 persoalan itu dikelompokkan ke dalam 13 tema, mulai dari pangan, energi dan sumber daya alam, kesehatan, pendidikan, hingga digitalisasi dan diplomasi.
Faiq menilai komposisi penulis inilah yang perlu dicatat pembaca sejak awal.
“Ketiganya pejabat aktif yang sedang menilai kinerja atasannya sendiri. Itu sah dalam komunikasi pemerintah, tapi bukan posisi seorang penilai independen,” ujarnya.
Dalam peluncurannya, Dirgayuza menyatakan buku itu lahir untuk menjawab persepsi publik yang menganggap Presiden tidak memahami persoalan lapangan. Ia menyebut anggapan itu tidak benar, sebagaimana dikutip kumparan. Sementara Qodari, dikutip Detik.com, menyematkan julukan “Bapak Transformasi Bangsa” kepada Presiden Prabowo.
Terbaca dari Satu Kata Kerja
Temuan paling menarik dari kajian ini justru menyangkut pilihan diksi ruang redaksi.
“Sebagian media menulis buku itu ‘mencatat’ 108 solusi. Sebagian lain menulis ‘mengklaim’. Satu kata kerja ini memetakan posisi editorial masing-masing,” papar Faiq.
Suara.com, misalnya, menulis buku itu mengklaim 108 jawaban dan menyebut penulisnya sebagai tiga pejabat lingkaran dekat Presiden. Tirto.id memilih rumusan lebih hati-hati, yakni buku ini mencoba mendata persoalan dan solusi yang dicoba dihadirkan pemerintah. Sebaliknya, sebagian besar kanal lain memberitakannya dengan diksi afirmatif tanpa jarak.
Selain soal diksi, Frensia Institute juga mencatat pola amplifikasi yang khas. ANTARA menerbitkan berita terpisah untuk bab pertahanan dan keamanan, bab penegakan hukum, serta bab dokumentasi janji kampanye.
“Satu peristiwa peluncuran dipecah menjadi serial berita tematik. Ini teknik memperpanjang umur isu, dan seluruhnya bersumber tunggal dari acara itu sendiri,” terangnya.
Ia menambahkan, tidak ditemukan narasumber pembanding dalam mayoritas berita tersebut.
Yang menurut Faiq paling layak dicermati adalah perpindahan status buku ini dalam tempo singkat.
Pada 7 Juli 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadikannya bahan Bedah Buku Bermutu dalam peringatan Hari Pustakawan Indonesia. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebutnya referensi bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Sehari berselang, versi bahasa Inggris berjudul Problem Solver diluncurkan dan tersedia dalam format cetak maupun elektronik.
“Dalam satu bulan, buku terbitan pejabat berpindah status dari bacaan populer menjadi bahan diskusi resmi kementerian pendidikan. Trajektori inilah yang perlu diperiksa,” tegasnya.
Ia mempertanyakan sisi pedagogisnya. Menurutnya, dokumen yang secara terbuka bertujuan menepis persepsi negatif sulit berdiri sendiri sebagai bahan latihan berpikir kritis tanpa bahan pembanding. Padahal Qodari sendiri menyatakan buku itu ditujukan sebagai bacaan populer, bukan kajian akademik.
Suara Kritis Ada, Liputannya Nyaris Nihil
Frensia Institute menemukan suara skeptis dalam jumlah sangat terbatas. Ulasan pembaca di Kompasiana dan Bulir.id, meski memuji format buku, mencatat bahwa buku kurang mengulas hambatan struktural di lapangan.
Media Democrazy.id menurunkan judul yang mempertanyakan apakah 108 solusi itu terobosan strategis atau sekadar lip service.
Menariknya, keberadaan wacana tandingan justru dikonfirmasi penulis buku sendiri. Dalam sambutannya, Qodari menyinggung adanya diskusi bertajuk “Presiden Masalah” yang berlangsung berdekatan, lalu memosisikan bukunya sebagai jawaban atas forum itu.
“Forum tandingan itu ada, tapi liputannya nyaris tidak ditemukan. Ini celah liputan paling menonjol dari seluruh penelusuran kami,” ungkap Faiq.
Di sisi lain, dukungan datang dari kalangan elite. Pendiri LSI Denny JA menilai buku ini menawarkan ukuran keberhasilan yang lebih konkret, yakni jumlah masalah rakyat yang berhasil diselesaikan seorang pemimpin.
Frensia Institute menegaskan kajian ini tidak menilai benar atau salahnya isi buku, melainkan memotret kondisi ruang informasi yang mengelilinginya. Lembaga tersebut mendorong media dan akademisi melakukan uji silang atas klaim-klaim yang paling terukur, seperti produksi beras, penanganan kelangkaan LPG, distribusi pupuk, dan cakupan Sekolah Rakyat, terhadap data BPS, kementerian teknis, dan laporan BPK.
“Kalau buku ini menyertakan data sebelum dan sesudah, justru itulah yang paling mudah diuji ulang. Pengujian seperti ini bukan bentuk permusuhan, melainkan cara kerja jurnalisme,” pungkasnya.







