Toko Madura Buka 24 Jam, Berpotensi Langgar Dua Aturan Sekaligus

Monday, 29 April 2024 - 16:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Toko Madura Buka 24 Jam, Berpotensi Langgar Dua Aturan Sekaligus (Sumber: Freepik)

Ilustrasi, Toko Madura Buka 24 Jam, Berpotensi Langgar Dua Aturan Sekaligus (Sumber: Freepik)

Frensia.id– Toko Madura yang mendapat larangan buka selama 24 jam beredar viral, dan jadi perbincangan di media sosial. Setidak ada beberapa aturan kebijakan yang dianggap diduga telah dilanggar oleh pengelola Tokoh Madura.

Walaupu Kemenkop dan UKM telah cepat membantah kabar tersebut. Namun setidaknya ada dua aturan yang telah dilanggar.

Kedua hal demikian, dikumpulkan oleh frensia.id dari beberapa data peneliti dan juga fenomena di larangannya Toko Madura beroperasi.

Adapun dua aturan yang dianggap diduga dilanggar ole Toko Madura adalah sebagaimana berikut ini

Perppu Cipta Kerja

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Cipta Kerja ditetapkan untuk menindaklanjuti putusan MK Nomor 91/PUU-XVIII/2020. Aturan ini disusun untuk mengoptimalkan ketenagakerjaan dan juga Kemudahan, perlindungan, serta pemberdayaan Koperasi dan UMK-M.

Pada aturan tersebut diatur tentang jam kerja karyawan. Ketentuannya diatur dalam Pasal 81 angka 23 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 77 UU Ketenagakerjaan.

Bunyi aturannya dinyatakan bahwa setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja yang meliputi:

  • 7 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu
  • 8 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.
Baca Juga :  Tajemtra 2026 Jadi Rekor Peserta Terbanyak Sepanjang Sejarah, Gus Fawait: Nanti Tembus 26.000 Orang

Sebagaimana diketahui bersama, Toko Madura memiliki jam kerja 24 jam non-stop. Jika dibagi 2 sift jadwal kerja, masih 12 jam, jadi tetap melanggar aturan dalam Perppu Cipta Kerja.

Dugaan tentang pelanggaran ini disampaikan secara rinci dalam riset Fathol Bari, Seorang Akademisi lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurutnya hal yang masih tidak sesuai aturan dari proses kerja Toko Madura adalah adanya indikasi pelanggaran jam kerja karyawan. Jadwalnya tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Walaupun demikian, ia juga mengatakan proses transaksi yang dilakukan sudah sesuai syara’.

Perda Klungkung, Bali

Sebagaimana diberitakan sebelumnya sebagaimana dilansir detiknews, Kemenkop dan UKM) telah memberikan tanggapan terhadap isu pembatasan jam operasional warung Madura di Klungkung, Bali.

Arif Rahman Hakim, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, menegaskan pentingnya warung Madura untuk patuh terhadap peraturan. Khusunya tentang jam operasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Baca Juga :  Petani Lojejer Protes ke DPRD Jember terkait Kades Rangkap Jabatan Anggota Gapoktan

“Kalau ada regulasi terkait jam kerja (jam operasional), tentu kami minta untuk dipatuhi,” tuturnya kala itu.

Lantas apa regulasi yang disebutkan oleh Arif tersebut? Dari penelusuran Frensia.id, ternyata adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Swalayan.

Peraturan Daerah (Perda) Klungkung Nomor 13 Tahun 2018 mengatur tentang jam kerja bagi pelaku usaha seperti toko, minimarket, hypermarket, departemen store, dan supermarket.

Mereka diizinkan beroperasi dari pukul 10.00 Wita hingga 22.00 WITA pada hari Senin hingga Jumat. Pada Sabtu dan Minggu, waktu operasional diperpanjang hingga pukul 23.00 Wita.

Selain itu, ada ketentuan juga untuk hari besar keagamaan, libur nasional, atau saat tutup tahun buku/tutup tahun akuntansi.  Mereka diizinkan buka hingga pukul 00.00.

Berdasar aturan ini, Toko Madura yang buka 24 jam tentu dapat dianggap diduga melanggar kebijakan. Tentu tidak mengeherankan, ada pihak-pihak yang melaporkan pelanggaran tersebut.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Kemen PPPA Tegaskan Terus Lakukan Advokasi: Perempuan Tetap Menstruasi Meski dalam Kondisi Darurat
Gus Fawait Sosialisasikan Program Pemkab Jember melalui Bunga Desaku di Kecamatan Jelbuk
Komisi D DPRD Jember Soroti Kasus Kekerasan Seksual, Kampus Diminta Evaluasi Pengawasan Mahasiswa
Datang ke Jember, Menteri KP Minta Proyek KNMP Tuntas Akhir November
Buntut Kasus Kekerasan Siswa, DPRD Jember Sidak Sekolah Rakyat hingga Minta CCTV Ditambah
Datang ke Jember, MenPAN-RB Puji Integrasi 279 Layanan dalam Satu Atap
DPRD Jember Gelar RDP Dugaan Sengketa Tanah Warga Kemuningsari Lor Panti, PTPN Tak Hadir
PAN Banyuwangi Gelar Rakerda 1 dan Pelantikan DPC, Siap Mengusung Kader Sendiri

Baca Lainnya

Sunday, 1 November 2026 - 22:37 WIB

Kemen PPPA Tegaskan Terus Lakukan Advokasi: Perempuan Tetap Menstruasi Meski dalam Kondisi Darurat

Saturday, 31 October 2026 - 22:47 WIB

Gus Fawait Sosialisasikan Program Pemkab Jember melalui Bunga Desaku di Kecamatan Jelbuk

Friday, 30 October 2026 - 20:15 WIB

Komisi D DPRD Jember Soroti Kasus Kekerasan Seksual, Kampus Diminta Evaluasi Pengawasan Mahasiswa

Friday, 30 October 2026 - 18:18 WIB

Datang ke Jember, Menteri KP Minta Proyek KNMP Tuntas Akhir November

Wednesday, 28 October 2026 - 18:01 WIB

Buntut Kasus Kekerasan Siswa, DPRD Jember Sidak Sekolah Rakyat hingga Minta CCTV Ditambah

TERBARU

Pelaku berinisial MFR (28), saat sedang menjalani penyidikan di Mapolres Jember. (Foto: Fadli/Frensia).

Criminalia

Kronologi Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswi yang PLP di Jember

Tuesday, 3 Nov 2026 - 16:00 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading